Kenali Pola Asuh yang Tepat Lewat Enam Perilaku Anak
Menghadapi sikap buah hati yang sulit dimengerti kerap membuat orang tua merasa kewalahan. Perubahan emosi yang mendadak hingga rengekan dalam aktivitas sehari-hari sering kali memicu pertanyaan mengenai ketepatan pola asuh yang diterapkan di rumah.
Sikap yang dinilai menguji kesabaran tersebut sebenarnya tidak selalu mengindikasikan kekeliruan dalam mendidik. Beberapa perilaku tertentu justru menjadi indikator positif bahwa proses tumbuh kembang anak sedang berjalan dengan baik.
Para ahli menyatakan bahwa sejumlah tindakan anak yang tampak menjengkelkan merupakan ekspresi dari rasa aman yang mereka rasakan. Dikutip dari HaiBunda, terdapat beberapa ciri perilaku yang menunjukkan keberhasilan pola asuh orang tua.
1. Berbicara Sendiri Saat Bermain
Anak-anak sering kali terlihat asyik berbicara sendiri atau bercerita dengan teman khayalan mereka ketika sedang bermain. Kondisi ini mencerminkan hal positif karena menjadi sarana bagi mereka untuk belajar mengekspresikan emosi serta pikiran.
American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian normal dari perkembangan sosial. Melalui aktivitas tersebut, anak-anak sedang melatih kemampuan berinteraksi dengan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Sikap ini juga menandakan bahwa anak memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap lingkungannya. Mereka merasa nyaman menjadi diri sendiri tanpa mengkhawatirkan penilaian dari orang lain.
2. Sering Mengeluh atau Merengek
Sikap anak yang terus-menerus mengeluh mengenai berbagai hal, seperti perjalanan yang lama atau keinginan yang tidak terpenuhi, kerap menguras energi orang tua. Namun, situasi ini bukan berarti ada kesalahan dalam metode pengasuhan.
Alisha Simpson-Watt, seorang pakar perilaku dari Amerika Serikat, menjelaskan bahwa merengek mengindikasikan anak merasa aman secara emosional. Rasa aman tersebut membuat mereka tidak ragu untuk mengekspresikan apa yang dirasakan kepada orang tua.
3. Mengajukan Banyak Pertanyaan
Rentetan pertanyaan yang diajukan anak secara terus-menerus sering kali membuat orang tua merasa lelah, terutama di tengah kesibukan. Sisi positifnya, kebiasaan ini menandakan bahwa anak merasa dicintai oleh orang tuanya.
Seorang psikolog anak asal Amerika Serikat, Will Leever, PsyD, menyebut bahwa orang tua tidak dituntut untuk selalu memberikan jawaban yang mendalam pada setiap pertanyaan.
"Orang tua tidak perlu menjawab setiap pertanyaan secara mendalam. Pernyataan seperti, 'Kamu benar-benar ingin tahu' sudah cukup untuk sementara waktu untuk memberi mereka perhatian yang mereka cari," ujar Leever.
4. Meluapkan Emosi Terbesar Hanya di Rumah
Sebagian anak mampu bersikap tenang saat berada di luar rumah, namun langsung meluapkan emosi besar ketika sudah bersama orang tua. Perilaku ini bukan menandakan adanya masalah dalam hubungan keluarga.
Leever menjelaskan bahwa fenomena psikologis ini justru menjadi bukti kuatnya kepercayaan anak terhadap orang tua mereka.
"Emosi besar di rumah sering kali berarti mereka mempercayai orang tua ketika mereka kewalahan," kata Leever.
Anak menganggap rumah dan kehadiran orang tua sebagai tempat yang paling aman. Hal ini membuat mereka berani melepaskan seluruh emosi yang dipendam sepanjang hari.
5. Bersikap Manja dan Posesif
Sikap anak yang selalu ingin menempel dan mengikuti ke mana pun orang tua pergi memang menguras stamina. Perilaku ini muncul karena anak merasakan kenyamanan yang besar berada di dekat figur yang memberinya rasa tenang.
Kondisi ini merupakan sinyal adanya keterikatan emosional yang sehat, bukan bentuk ketergantungan yang buruk. Intensitas sikap posesif ini akan berkurang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia dan kemandirian anak.
6. Berani Mengoreksi Orang Tua
Anak-anak kadang tidak ragu untuk memprotes atau membenarkan perkataan orang tua berdasarkan hal baru yang mereka pelajari. Tindakan ini menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang baik pada anak.
Sikap berani mengoreksi tersebut menjadi indikator bahwa anak merasa dekat dan nyaman dalam berkomunikasi. Hal ini juga menandakan anak merasa bahwa pendapat serta pemikirannya dihargai di dalam lingkungan keluarga.