Mengenal Fenomena Food Divorce yang Ramai di Media Sosial

Share

Pertanyaan mengenai menu makanan harian kerap memicu perdebatan kecil dalam hubungan pasangan. Perbedaan selera, pola diet, hingga jam makan yang tak seragam sering kali membuat urusan kuliner terasa pelik. Kondisi tersebut melahirkan istilah populer bernama food divorce yang tengah marak dibicarakan di media sosial.

Istilah ini sama sekali tidak merujuk pada perpisahan atau keretakan hubungan dalam rumah tangga. Seperti dikutip dari Wolipop yang melansir Curly Tales, food divorce merupakan praktik saat pasangan memilih belanja, memasak, serta menyantap menu sesuai selera individu masing-masing.

Pasangan tetap tinggal bersama dan merawat hubungan secara normal. Perbedaannya terletak pada ketiadaan paksaan untuk selalu mengonsumsi hidangan yang sama setiap hari.

Sebagai ilustrasi, salah satu pihak dapat mengonsumsi salad karena sedang menjalani pola hidup sehat. Sementara itu, pasangannya tetap bisa memilih burger atau makanan kaya karbohidrat. Penerapan konsep ini dinilai sangat praktis. Setiap orang dapat membeli bahan pangan mandiri, mengolah masakan berbeda, atau memesan makanan dari tempat favorit secara terpisah.

Fleksibilitas waktu juga menjadi poin penting. Pasangan tidak dituntut untuk makan secara bersamaan jika salah satu pihak merasa lapar lebih awal dari yang lain. Meskipun menerapkan food divorce, kedua pihak tetap berkesempatan makan bersama kapan saja. Pasangan juga tetap bisa melakukan agenda makan malam romantis dengan pesanan menu beragam.

Prinsip utama konsep ini bukan memicu jarak, melainkan memberikan ruang kebebasan penuh dalam memilih sajian kuliner. Penerapannya pun tidak bersifat mutlak setiap hari. Saat kedua pihak ingin memasak atau menyantap hidangan seragam, hal tersebut tetap dapat dilakukan. Pendekatan ini menjadi jalan keluar logis untuk menghargai preferensi individu tanpa mengganggu keharmonisan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author