Psikolog Ungkap Ciri dan Dampak Pola Asuh Permisif pada Anak

Share

Setiap orang tua menerapkan gaya pengasuhan yang berbeda sesuai dengan nilai keluarga masing-masing. Pola asuh ini secara ilmiah dikelompokkan ke dalam beberapa kategori berdasarkan tingkat ekspektasi dan kepekaan emosional.

Dilansir dari HaiBunda, psikolog anak Diana Baumrind pada tahun 1967 membagi pola asuh menjadi empat kategori utama. Kategori tersebut meliputi otoriter, permisif, otoritatif, dan pola asuh yang mengabaikan.

Salah satu model yang kerap menarik perhatian adalah pola asuh permisif. Pendekatan ini dikenal sangat suportif dan hangat, namun cenderung minim dalam menetapkan batasan serta ekspektasi kepada anak.

Dalam penerapannya, anak-anak sering kali menjadi pusat pengambilan keputusan. Mereka diberikan kebebasan penuh untuk mengekspresikan diri dengan bimbingan yang sangat minim dari orang tua.

Orang tua permisif biasanya tidak mendikte tindakan anak, melainkan hanya turun tangan saat benar-benar dibutuhkan. Akibatnya, anak tumbuh dengan perasaan dicintai namun kurang memahami konsekuensi dari tindakan mereka.

Pendekatan ini tidak selalu direncanakan secara sengaja untuk melatih kemandirian. Dikutip dari Parents, motivasi di balik pola asuh ini kadang didasari keinginan orang tua untuk menghindari konflik dan hanya menikmati momen menyenangkan bersama anak.

Terdapat beberapa ciri spesifik yang melekat pada orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan permisif dalam kehidupan sehari-hari.

  • Menetapkan aturan yang sangat minimal di rumah.
  • Memposisikan diri sebagai teman dekat atau sekutu anak.
  • Sangat menuruti preferensi anak terkait makanan hingga aktivitas.
  • Melibatkan anak dalam keputusan besar keluarga, seperti pemilihan sekolah.
  • Lebih menekankan kebebasan personal daripada tanggung jawab.
  • Membiarkan konsekuensi alami terjadi tanpa memberikan sanksi tegas.
  • Menganggap situasi berisiko sebagai bagian dari proses belajar semata.

Sebagai contoh, orang tua permisif cenderung mendiamkan atau membereskan sendiri kamar anak yang berantakan tanpa menegur. Begitu pula saat anak melakukan kesalahan terhadap saudara kandung, tindakan tersebut sering kali dilewati tanpa pembahasan.

Alasan Pemilihan Pendekatan Permisif

Niat baik sering menjadi landasan utama orang tua memilih jalur ini. Rasa kasih sayang yang besar membuat mereka enggan menegakkan aturan yang berpotensi memicu kekecewaan atau rasa tidak nyaman pada anak.

Respons positif jangka pendek dari anak, seperti pelukan atau rasa terima kasih, menjadi kepuasan tersendiri bagi orang tua. Hal ini terkadang dipicu oleh pengalaman masa lalu orang tua yang merasa kurang mendapatkan kehangatan di masa kecil.

Kelebihan dan Kekurangan untuk Perkembangan Anak

Gaya pengasuhan ini tidak sepenuhnya buruk karena memberikan ruang kemandirian yang luas bagi anak untuk belajar langsung dari pengalaman mereka.

"Pengasuhan permisif dapat berdampak positif pada anak-anak, karena orang tua ini peka terhadap kebutuhan anak, menawarkan dukungan emosional, dan memberi anak-anak mereka kesempatan untuk membuat keputusan sendiri," kata Cara Goodwin, Ph.D., seorang psikolog klinis berlisensi di Amerika Serikat, dikutip dari laman BabyCenter.

Namun, ketiadaan batasan yang jelas memicu dampak negatif yang signifikan. Dalam jangka pendek, anak rentan membentuk kebiasaan buruk seperti durasi layar berlebih, waktu tidur berantakan, hingga pola makan tidak sehat.

Secara jangka panjang, pola asuh permisif dapat menghambat kemampuan anak dalam mengelola stres dan kekecewaan. Anak-anak menjadi kurang tangguh dalam menghadapi tantangan hidup yang berat.

Sejumlah penelitian juga mengaitkan pola asuh ini dengan risiko capaian akademik yang lebih rendah di sekolah. Selain itu, terdapat potensi peningkatan gejala kecemasan serta depresi pada anak di masa depan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author