Alasan Psikologis Seseorang Merasa Sedih Usai Liburan

Share

Kembali ke rutinitas harian setelah menikmati perjalanan berlibur sering kali memicu timbulnya rasa sedih atau penurunan semangat. Kondisi yang dikenal sebagai post-travel blues ini dilaporkan berkaitan erat dengan cara seseorang mengelola emosi serta memaknai sebuah pengalaman, dilansir dari HaiBunda. Para ahli psikologi menyebutkan bahwa individu yang mengalami kesedihan pasca-liburan umumnya memiliki kepekaan emosional tinggi.

Karakter ini cenderung menikmati hal-hal baru, gemar ber-refleksi, dan amat menghargai setiap momen yang dijalani. Sensitivitas emosional menjadi salah satu penjelas utama munculnya perasaan tersebut. Berdasarkan Model Lima Faktor yang dikembangkan Paul Costa dan Robert McCrae dalam 'Personality Across the Life Span', orang yang peka terhadap emosi merespons suka dan duka dengan intensitas yang lebih dalam.

Investasi emosional yang tinggi saat perjalanan memberikan kebahagiaan serta koneksi baru. Hal ini menciptakan kontras yang sangat nyata ketika harus kembali menghadapkan diri pada rutinitas harian.

Kedalaman emosional ini bermanifestasi dalam beberapa karakteristik kepribadian khusus: Pertama, adanya kecenderungan membentuk ikatan kuat dengan pengalaman. Individu tidak sekadar mengunjungi destinasi, melainkan menyerap interaksi sosial, percakapan, hingga suasana secara personal.

Kedua, memiliki kepekaan tinggi terhadap kontras emosional. Perubahan suasana hati dan lingkungan dari masa eksplorasi menuju rutinitas terasa jauh lebih dramatis bagi mereka. Ketiga, orang dengan karakter ini berkembang pesat melalui penemuan baru. Lingkungan asing menyediakan tantangan serta wawasan yang seketika berkurang saat tiba di rumah.

Keempat, perjalanan dikaitkan dengan pengembangan pribadi. Teori motivasi Abraham Maslow mencatat adanya dorongan bawaan menuju aktualisasi diri, di mana bepergian dipandang sebagai sarana membentuk versi diri yang lebih percaya diri. Kelima, lebih aktif mencari makna ketimbang sekadar kenyamanan.

Rasa sedih setelah mengarungi pengalaman berkesan mencerminkan keterlibatan penuh dalam menjalani hidup, bukan menandakan kondisi tidak sehat. Keenam, individu tipe ini sangat reflektif. Momen bermakna secara emosional dikodekan lebih kuat dalam ingatan autobiografi dan dianalisis secara berkala dalam jangka panjang.

Ketujuh, lebih mengapresiasi pengalaman daripada barang materi. Riset karya Leonardo Nicolao menunjukkan bahwa pembelian berbasis pengalaman menghasilkan kebahagiaan jangka panjang yang berdampak emosional kuat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author