Karyawan Lakukan Quiet Vacationing demi Liburan Diam-diam dari Atasan

Share

Fenomena baru bernama quiet vacationing kini tengah melanda dunia kerja saat karyawan diam-diam pergi berlibur tanpa mengajukan cuti resmi. Para pekerja tetap beraktivitas secara online untuk menciptakan kesan bahwa mereka sedang aktif bekerja, seperti dilansir dari HaiBunda.

Praktik ini umumnya dilakukan oleh pekerja jarak jauh atau hybrid yang memiliki fleksibilitas tinggi. Mereka tetap membalas email bahkan hadir dalam rapat virtual padahal sebenarnya tengah menikmati waktu liburan.

Survei yang dilakukan Resume Builder menunjukkan bahwa sekitar 41 persen karyawan telah melakukan quiet vacationing sepanjang 2025. Angka ini menunjukkan bahwa tren tersebut bukan lagi fenomena kecil, melainkan kebiasaan yang cukup umum di berbagai sektor pekerjaan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 3 persen hanya melakukannya satu kali. Sementara itu, 48 persen mengaku pernah mengambil dua hingga tiga kali liburan diam-diam, dan 28 persen melakukannya empat hingga lima kali.

Sekitar 11 persen dari responden bahkan mengambil enam hingga tujuh hari libur rahasia. Ada pun 4 persen mengaku telah melakukannya selama 10 hari atau lebih.

Siasat Mengelabui Atasan

Untuk menjaga agar atasan tidak curiga, banyak pekerja menggunakan berbagai trik teknologi. Mereka menjadwalkan e-mail untuk terkirim otomatis, mengaktifkan balasan pesan tertentu, hingga menggunakan perangkat agar status di aplikasi komunikasi tetap terlihat aktif.

Meningkatnya tren ini tidak lepas dari perubahan pola kerja sejak maraknya sistem kerja jarak jauh. Batas antara waktu kerja dan pribadi menjadi semakin kabur sehingga banyak orang merasa tetap dapat menyelesaikan pekerjaan dari mana saja, termasuk saat bepergian.

Namun pendekatan tersebut dinilai kurang efektif. Karyawan tidak mendapatkan waktu istirahat yang benar-benar memulihkan tenaga, sementara produktivitas juga tidak optimal karena perhatian terbagi antara pekerjaan dan kegiatan liburan.

Akar Masalah di Lingkungan Kerja

Pakar menilai quiet vacationing merupakan sinyal adanya persoalan yang lebih dalam di lingkungan kerja. Banyak pekerja merasa tidak aman atau tak didukung ketika ingin mengambil cuti secara terbuka.

Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak pekerja tidak merasa cukup aman atau cukup didukung untuk mengambil istirahat yang layak berdasarkan laporan Forbes. Sebagian pekerja akhirnya mencari jalan pintas, seperti menggerakkan mouse agar status tetap aktif, mematikan kamera saat rapat, dan hanya membalas e-mail secukupnya untuk terlihat sibuk.

1. Takut Dianggap Malas

Salah satu alasan utama munculnya tren ini kekhawatiran karyawan akan dinilai tidak produktif. Banyak pekerja takut dianggap malas jika mengambil cuti, terutama di lingkungan kerja yang menilai dedikasi berdasarkan seberapa sering seseorang terlihat online.

Semua ini bermula dari rasa takut untuk tampak seperti sedang bermalas-malasan. Tekanan tersebut membuat sebagian pekerja merasa lebih nyaman menyembunyikan liburan mereka daripada mengajukan cuti secara resmi.

2. Jatah Cuti Terbatas

Selain tekanan budaya kerja, jumlah cuti berbayar yang terbatas juga menjadi faktor pendorong. Sebagian karyawan memilih menyimpan jatah cuti mereka untuk kebutuhan mendesak sehingga memanfaatkan fleksibilitas kerja jarak jauh untuk tetap 'bekerja' sambil berlibur.

Sayangnya, keputusan ini bisa berbalik merugikan. Risiko yang muncul antara lain keterlambatan penyelesaian tugas, penumpukan pekerjaan setelah kembali, hingga konsekuensi dari perusahaan jika tindakan tersebut diketahui.

Para ahli menilai perusahaan perlu lebih serius menetapkan batas yang sehat antara pekerjaan dan waktu istirahat. Karyawan yang memiliki kesempatan untuk benar-benar beristirahat cenderung kembali bekerja dengan energi, kreativitas, dan ketahanan yang lebih baik.

Jika perusahaan ingin karyawan hadir dengan penuh semangat, kreatif, dan tangguh, mereka harus berhenti memberi penghargaan pada burnout dan mulai menghargai pemulihan. Orang yang cukup beristirahat akan bekerja lebih baik.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author