Puncak Hujan Meteor Ganda Terjadi Malam Ini 31 Juli 2026

Share

Dua fenomena hujan meteor periodik, Southern Delta Aquariids dan Alpha Capricornids, mencapai puncak bersamaan pada Jumat, 31 Juli 2026. Peristiwa yang dikenal sebagai hujan meteor ganda ini dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia sejak tengah malam hingga menjelang subuh.

Hujan meteor Southern Delta Aquariids yang berasal dari puing-puing Komet 96P/Machholz berlangsung sejak pertengahan Juli hingga Agustus. Fenomena ini menawarkan intensitas maksimum sekitar 15 hingga 25 meteor per jam di langit malam yang bebas polusi cahaya.

Sementara itu, Alpha Capricornids berasal dari sisa material Komet 169P/NEAT. Meskipun intensitasnya lebih rendah dengan menghasilkan 3 hingga 5 meteor per jam, fenomena ini sering memancarkan bola api terang yang meluncur lebih lambat di angkasa.

Pengamatan puncak fenomena ini dapat dilakukan dengan mengarahkan pandangan ke langit bagian timur saat tengah malam, atau ke arah selatan dan tenggara mendekati rasi Aquarius serta Capricornus menjelang fajar.

Astronom amatir Marufin Sudibyo memberikan gambaran mengenai dampak cahaya Bulan pasca fase purnama terhadap visibilitas pengamatan tahun ini.

"Namun, karena bersamaan dengan cahaya Bulan pasca purnama, jumlah meteor yang benar-benar terlihat diperkirakan jauh lebih sedikit, hanya sekitar separuh untuk Delta Aquarida selatan dan sekitar 1-2 meteor per jam untuk Alfa Capricornida," ungkap Marufin.

Ia menambahkan mengenai arah lintasan meteor yang muncul dari kedua rasi tersebut saat malam mulai larut.

"Pada tengah malam, meteor dari kedua hujan meteor ini dapat disaksikan sebagai kilatan cahaya yang bergerak ke arah barat, utara, atau selatan," ungkap dia.

Marufin menegaskan bahwa fenomena astronomi ini secara geografis dapat diakses dari berbagai daerah di Tanah Air.

"Cara pengamatannya cukup dengan mengarahkan pandangan ke langit bagian utara atau selatan menjelang waktu subuh, atau ke langit bagian timur saat tengah malam," ungkapnya.

Ia menyarankan penggunaan alat bantu pengamatan yang tepat jika masyarakat tidak mengamatinya secara langsung.

"Jika ingin menggunakan alat bantu optik, kamera bersudut pandang lebar atau kamera langit (sky camera) menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan teleskop."

Marufin juga menyoroti kendala utama yang dialami kawasan metropolitan seperti Jabodetabek akibat polusi cahaya yang tinggi.

"Mata manusia umumnya baru bekerja optimal di lingkungan gelap setelah beradaptasi minimal 30 menit," katanya.

Peneliti Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, mengonfirmasi posisi strategis Indonesia dalam mengamati atraksi langit tersebut.

“Dua hujan meteor ini mencapai puncaknya secara bersamaan pada akhir Juli. Indonesia berada pada posisi pengamatan yang sangat strategis,” ujarnya.

Ia membagikan petunjuk waktu yang paling baik bagi para pengamat untuk mengantisipasi munculnya lintasan meteor di atas horizon.

”Waktu pengamatan terbaik terjadi pada saat sebelum fajar atau setelah tengah malam. Ketika posisi titik radian sudah berada cukup tinggi di langit,” jelas Thomas.

Thomas mengimbau tiga syarat mendasar yang perlu dipenuhi agar pengamatan di area terbuka dapat berjalan secara optimal.

”Untuk bisa melihat fenomena ini secara optimal, ada tiga syarat utama yang harus terpenuhi. Seperti cuaca cerah, pandangan ke langit tidak terhalang, dan lokasi pengamatan jauh dari polusi cahaya,” tegas Thomas.

Proses pengamatan hujan meteor ini tidak memerlukan alat bantu optik seperti teleskop atau teropong karena mata telanjang memberikan sudut pandang yang lebih luas. Seluruh sisa debu komet yang memasuki atmosfer dipastikan terbakar habis pada ketinggian di atas 80 kilometer sehingga tidak berbahaya bagi Bumi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author