Piala Dunia 2026 Gagal Dongkrak Wisatawan Mancanegara ke Amerika Serikat
Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 gagal mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Amerika Serikat secara signifikan selama fase grup pada Juni 2026 kemarin.
Pertumbuhan kunjungan internasional yang lesu ini berbanding terbalik dengan target keuntungan besar yang sebelumnya diproyeksikan oleh badan sepak bola dunia, FIFA. Kunjungan turis asing sepanjang Juni 2026 tercatat hanya meningkat sebesar 0,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seperti dilansir dari Detik Travel.
Berdasarkan data National Travel & Tourism Office (NTTO) di bawah Departemen Perdagangan AS, penurunan kedatangan justru terjadi pada dua pasar utama. Wisatawan asal Eropa merosot 1,2 persen, sementara kunjungan dari Asia turun hingga 5,6 persen. Kenaikan hanya terjadi pada pasar yang lebih kecil, seperti Afrika sebesar 13,8 persen dan Amerika Selatan sebesar 4,7 persen.
Kondisi ini memicu kritik terhadap target ekonomi dari FIFA yang sebelumnya memproyeksikan kontribusi sebesar USD 30,5 miliar atau sekitar Rp 549 triliun untuk ekonomi Amerika Serikat. Angka tersebut didasarkan pada asumsi pengeluaran besar dari penonton internasional.
Terkait proyeksi finansial tersebut, Profesor Emeritus Ekonomi Smith College, Andrew Zimbalist, memberikan kritik tajam mengenai validitas data dari otoritas sepak bola dunia.
"FIFA memainkan permainan hubungan masyarakat (PR) dengan semua angka itu. Tidak pernah masuk akal jika dampaknya mencapai USD 30,5 miliar bagi ekonomi Amerika Serikat," kata Zimbalist.
Ketidaksesuaian target ini juga dirasakan oleh American Hotel & Lodging Association (AHLA) yang mencatat tingkat hunian hotel di kota-kota tuan rumah tidak mengalami peningkatan berarti meski tarif kamar dinaikkan. Zimbalist menambahkan bahwa lesunya angka pariwisata ini berkaitan erat dengan sentimen politik luar negeri dari pemerintah Amerika Serikat sendiri.
"Ada penolakan yang meluas terhadap tarif Trump dan kebijakan internasionalnya. Ini bukan pernyataan memihak, melainkan kenyataan," jelas Zimbalist.
Kelesuan ini juga diamati oleh para analis industri perhotelan yang menilai pergerakan data selama turnamen berlangsung tidak menunjukkan dampak yang masif bagi pariwisata.
"Sulit melihat data yang ada lalu menyimpulkan bahwa turnamen ini benar-benar menjadi pendorong besar bagi kedatangan wisatawan mancanegara," ungkap Jan Freitag, Direktur Analisis Pasar Perhotelan Nasional CoStar.
Di sisi lain, North Carolina State University mencatat 16 kota tuan rumah di Amerika Utara telah menginvestasikan sekitar USD 100 juta hingga USD 200 juta demi menyokong fasilitas penunjang. Akibat ketimpangan beban biaya investasi daerah ini, pembagian keuntungan dinilai berjalan tidak adil.
"Model FIFA adalah FIFA memperoleh pendapatan, sementara kota-kota tuan rumah menanggung biaya dan risikonya," kata Michael Edwards, Profesor Manajemen Olahraga North Carolina State University.
Hingga menjelang laga final, dampak positif pariwisata hanya terkonsentrasi di beberapa titik seperti New York, Miami, dan Atlanta, sementara mayoritas kota tuan rumah lain dilaporkan belum mengalami lonjakan wisatawan.