Mantan Narapidana Lapas Garut Sukses Jalankan Usaha Pakan Ternak
Seorang mantan narapidana Lapas Kelas IIA Garut, Jajang (48), berhasil merintis usaha produksi pakan ayam dan bebek di Kabupaten Garut, Jawa Barat, dengan meraup omzet hingga Rp 12 juta pada bulan pertama pascabebas, Kamis (20/8/2026).
Keterampilan membuat pakan ternak tersebut didapatkan Jajang dari program pembinaan yang diterimanya selama mendekam di dalam lembaga pemasyarakatan. Dilansir dari Detikcom, ia memanfaatkan jaringan komunitas peternak yang terhubung dengan pihak lapas untuk memasarkan produknya secara mandiri.
Pada bulan awal pengoperasian usaha rumahan tersebut, Jajang berhasil mengantongi pesanan hingga puluhan ton dari para peternak lokal di kawasan Garut.
"Semenjak saya keluar dari lapas, saya memutuskan untuk menjadi pengusaha ternak pakan ayam dan bebek, karena saat keluar dari sini saya sudah banyak pengalaman," ucap Jajang.
Penjualan produknya langsung menembus angka belasan ton dalam waktu relatif singkat sejak ia menyelesaikan masa hukuman.
"Baru satu bulan keluar dari lapas, dan satu bulan ini saya merintis sudah ada yang order sampai 25 ton," sambung Jajang.
Ketersediaan bahan baku di wilayah tempat tinggalnya turut mempermudah proses manufaktur pakan rumahan tersebut.
"Di sini bahan bakunya tidak susah, lalu di sini juga banyak peternak. Jadi tidak begitu susah untuk menjual pakan walaupun keuntungannya kecil, tapi setidaknya bermanfaat," kata Jajang.
Proses perancangan formula pakan tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga bulan percobaan di bawah pengawasan Kepala Lapas Garut, Rusdedy. Formulasi pakan sempat mengalami kegagalan akibat memicu masalah pencernaan pada hewan ternak sebelum akhirnya mendapatkan racikan yang tepat.
Jajang kemudian menguji formula pakan buatan tersebut secara langsung kepada ribuan ekor ayam ternak dalam fasilitas pembinaan.
"Awalnya saya pernah mulai mencoba meracik pakan beberapa kali, tapi mengurangi kesehatan ternak," tutur Jajang.
Setelah melakukan penyesuaian bahan baku, komposisi nutrisi berhasil disempurnakan hingga aman untuk dikonsumsi ternak.
"Kendalanya hanya dari awal saat saya disuruh praktik oleh Bapak dengan percobaan ayam 3.000 ekor, dan sampai sekarang saya kuasai racikannya," jelas Jajang.
Karakteristik pakan buatan yang mudah berjamur menuntut pembuatan jadwal produksi yang berkesinambungan setiap pekan.
"Di sini pun saya harus menjaga kualitas pakan dan itu paling susah. Di sini produksinya per minggu karena kalau didiamkan lama akan berjamur dan sudah jelas kualitasnya akan menurun," terang Jajang.
Untuk meningkatkan kemampuan bisnis dan teknis, Jajang memilih bergabung ke dalam asosiasi peternak lokal.
"Saya mengikuti komunitas asosiasi peternak pakan, banyak sharing juga di sana," ucap Jajang.
Pengembangan unit usaha juga direncanakan melalui penambahan peralatan produksi apabila pembiayaan telah mencukupi.
"Mudah-mudahan kalau saya dikasih rezeki lebih saya ingin membeli mesin yang lebih besar," sebut Jajang.
Keberhasilan merintis usaha produksi pakan ternak secara mandiri tersebut mendapat dukungan penuh dari pihak keluarga.
"Keluarga saya semua kaget karena setelah keluar dari lapas bisa sesukses ini, dan istri saya pun merasa bangga dengan saya. Kita belajar semua dari lapas," ujar Jajang.
Penerimaan masyarakat sekitar tempat tinggalnya juga berjalan baik sejak ia menjalani program asimilasi.
"Dan bahkan tidak mendapat penolakan dari masyarakat. Justru di masa asimilasi itu luar biasa jadi banyak saudara," kata Jajang.
Pengalaman selama menjalani pemasyarakatan mengubah pandangannya terhadap proses pembinaan di dalam lembaga hukum tersebut.
"Menurut pengalaman saya, orang lapas itu luar biasa karena bisa membina saya, mendidik saya. Kenapa saya bisa jadi seperti ini juga dari lapas. Mungkin orang yang tidak tahu tentang bagaimana di dalam itu menakutkan, tapi justru malah saya dimuliakan," ungkap Jajang.
Ia menilai stigma negatif masyarakat terhadap mantan warga binaan harus dibuktikan dengan perubahan perilaku dan karya nyata.
"Saya merasa bangga menjadi warga binaan yang sudah pernah diajarkan di lapas. Dulu tidak seperti ini," ujar Jajang.
Jajang menegaskan niatnya untuk terus melanjutkan pembuktian positif tersebut di tengah masyarakat.
"Mungkin keluar dari lapas stigmanya kurang baik, tapi harusnya kita jauh menjadi lebih baik setelah keluar dari lapas," pungkas Jajang.