Pemerintah Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik meski Rupiah Melemah

Share

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak akan naik hingga akhir tahun 2026. Keputusan ini tetap dipertahankan pemerintah di tengah guncangan pasokan akibat konflik Timur Tengah dan pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS yang mendekati level Rp17.900 pada Jumat (29/5/2026).

Pemerintah menerapkan strategi peningkatan produksi minyak mentah dan pengoptimalan kesiapan kilang di dalam negeri untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional. Langkah ini diambil guna menahan dampak dinamika global dan fluktuasi nilai tukar yang menekan perekonomian domestik.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan bahwa indikator ketersediaan cadangan operasional minimal nasional berada pada level yang sangat aman. Pasokan untuk jenis BBM penugasan dan subsidi saat ini dipastikan berada jauh di atas batas minimal operasional 20 hingga 23 hari.

"Kalau untuk ketersediaan BBM, ini kan kita ada indikator ketersediaan cadangan operasional minimal. Ini cadangan minimal kita, cadangan yang ada saat ini jauh di atas cadangan minimal. Jadi ini ada berapa, misalnya untuk Pertalite itu jauh di atas cadangan minimal," ujar Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (29/5/2026).

Pihak Kementerian ESDM juga mematangkan kesiapan sektor produksi dalam negeri demi meredam gejolak harga eksternal. Sektor kilang domestik terus didorong untuk meningkatkan output produksi minyak.

"Jadi untuk kenaikan harga BBM yang untuk subsidi, ini kan sudah disampaikan dan ini menurut perhitungan kita kan ada produksi dalam negeri yang kita dorong itu peningkatan. Kilang di dalam negeri pun itu juga kita juga sudah siapkan," ujar Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM.

Selain BBM subsidi, pasokan untuk Solar CN48 serta BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo juga dipastikan aman. Berdasarkan data Kurs Transaksi Bank Indonesia, nilai tukar rupiah sempat menyentuh angka Rp17.877 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya telah menegaskan bahwa pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM subsidi demi menjaga stabilitas daya beli masyarakat. Penahanan harga Pertalite di angka Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter ini disesuaikan dengan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto.

"Belum ada kenaikan, tidak akan naik InsyaAllah ya, doain ya, tidak akan kita naikkan subsidi BBM. InsyaAllah sampai akhir tahun," ujar Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Bahlil menambahkan bahwa rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) periode Januari hingga Mei 2026 masih aman di kisaran 80 hingga 81 dolar AS per barel. Meski ICP April 2026 sempat melonjak ke level 117,31 dolar AS per barel dari bulan Maret yang sebesar 102,26 dolar AS per barel, rata-rata keseluruhan belum menyentuh batas mengkhawatirkan.

"Rata-rata ICP kita sekarang itu kurang lebih sekitar 80–81 dolar AS dari bulan Januari sampai sekarang. Jadi, belum sampai 100 dolar AS," kata Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.

Kekhawatiran mengenai stabilitas pasokan energi dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah sebelumnya juga sempat diutarakan oleh Presiden Prabowo Subianto saat melakukan pertemuan bilateral. Masalah rantai pasok global menjadi perhatian serius pemerintah dalam menjaga ketahanan domestik.

"Saya sependapat dengan Presiden Macron bahwa stabilitas Timur Tengah sangat penting dan akan berdampak langsung pada kondisi energi dunia dan rantai pasok global," ujar Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia dalam pernyataan pers bersama di Paris yang dikutip dari Youtube Sekretariat Presiden.

Di sisi lain, kebijakan menahan harga energi ini mendapat sorotan dari sektor pasar keuangan sekuritas. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai langkah fiskal pemerintah memindahkan beban penyesuaian ekonomi sepenuhnya ke nilai tukar rupiah.

"Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs," ujar Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026).

Fakhrul menyarankan perlunya pembagian beban atau burden sharing yang seimbang antara instrumen moneter dan kebijakan fiskal agar volatilitas kurs tidak terus berulang. Dirinya melihat pasar saat ini sedang menguji konsistensi kebijakan ekonomi Indonesia.

"Kita perlu burden sharing yang lebih seimbang antara fiskal, moneter, sektor energi, dan sektor riil. Karena kalau rupiah terus menjadi penanggung terakhir dari semua tekanan ekonomi, maka volatilitas akan terus berulang," kata Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia.

Sementara itu, penyesuaian harga justru terjadi pada sektor BBM nonsubsidi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) per Mei 2026. Di SPBU Pertamina, harga Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.900 per liter, Dexlite menjadi Rp26.000 per liter, dan Pertamina Dex menjadi Rp27.900 per liter, sedangkan harga Pertamax (RON 92) tetap.

Perubahan harga juga dilakukan oleh penyedia swasta seperti VIVO, Shell Indonesia, dan BP-AKR. Akun resmi @spbuvivo mengunggah promosi terkait perubahan harga pada akhir Mei.

"Update harga BBM terbaru! Saatnya isi bahan bakar dengan pilihan yang lebih smart & berkualitas di SPBU VIVO," tulis akun @spbuvivo dikutip Jumat (30/5/2026).

Pada jaringan swasta tersebut, produk Diesel Primus milik VIVO dan Shell V-Power Diesel yang kembali dijual kini dipatok Rp30.890 per liter. Adapun untuk produk BP Ultimate Diesel mengalami penurunan harga menjadi Rp29.890 per liter sejak 25 Mei 2026.

"Terima kasih sudah menanti. Shell V-Power Diesel mulai tersedia kembali secara bertahap di SPBU Shell," tulis Shell melalui akun Instagram resminya, dikutip Jumat (29/5/2026).

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author