Mengenal Teen-ternity Fenomena Orang Tua Lepas Karier demi Anak Remaja
Fenomena 'teen-ternity' kini mulai dilirik oleh para orang tua yang memiliki anak berusia remaja. Istilah ini merujuk pada keputusan orang tua untuk memprioritaskan kehadiran emosional bagi anak remaja mereka.
Seperti dilansir dari HaiBunda, istilah 'teen-ternity' mengombinasikan kata 'teen' dan 'maternity'. Konsep ini lahir dari kesadaran bahwa anak remaja membutuhkan perhatian mental yang cukup besar dari orang tua.
Meskipun bukan kebijakan resmi di tempat kerja, tren ini makin ramai dibicarakan. Banyak pekerja memilih mengambil jam kerja fleksibel, beralih ke paruh waktu, hingga resign demi fokus mendampingi anak.
Tantangan mengasuh anak remaja dinilai berbeda dibanding balita. Anak remaja tidak lagi butuh bantuan fisik dasar seperti mengikat tali sepatu, tetapi mereka memerlukan jaring pengaman emosional yang kuat.
Perkembangan teknologi turut mengubah dinamika kehidupan remaja masa kini. Data Pew Research Center 2024 menunjukkan hampir separuh dari 1.300 remaja di Amerika Serikat menghabiskan banyak waktu secara online.
Interaksi sosial remaja kini terus berlanjut di media sosial meski jam sekolah telah usai. Riset lanjutan menyebutkan hampir setengah remaja percaya bahwa media sosial memberi dampak negatif bagi sebaya mereka.
Pentingnya Kehadiran Orang Tua pada Masa Transisi
Masa transisi menuju dewasa membuat remaja rentan mengalami kecemasan dan perubahan emosi. Para psikolog perkembangan menilai fase ini sebagai salah satu periode paling krusial dalam pertumbuhan manusia.
Dukungan emosional yang konsisten terbukti memberikan dampak positif bagi kesehatan mental anak. Kehadiran orang tua secara intensif membantu menciptakan stabilitas emosi di tengah tekanan lingkungan sekitar.
Penelitian dalam jurnal Development and Psychopathology tahun 2023 mencatat remaja yang mendapat kehangatan dari orang tua memiliki risiko lebih rendah mengalami gejala depresi hingga awal masa dewasa.
Konsep 'teen-ternity' sekaligus mematahkan pandangan lama bahwa anak semakin tidak membutuhkan orang tua seiring bertambahnya usia. Kebutuhan tersebut sejatinya tidak hilang, melainkan hanya berubah bentuk.