Laba Bersih PT KAI Anjlok pada Semester I 2026

Share

PT Kereta Api Indonesia (Persero) membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 314,03 miliar pada semester I-2026, berdasarkan laporan keuangan un-audited perusahaan. Sebagaimana dilansir dari Detik Finance pada Minggu (2/8/2026), angka ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,18 triliun.

Penurunan juga terjadi pada laba sebelum pajak KAI yang terkoreksi menjadi Rp 842,69 miliar dari posisi semester I-2025 senilai Rp 1,86 triliun. Meskipun demikian, pendapatan KAI Group justru tumbuh 6,6 persen secara tahunan mencapai Rp 17,96 triliun pada paruh pertama tahun ini.

Pertumbuhan omzet tersebut diiringi kenaikan laba bruto sebesar 18,81 persen menjadi Rp 6,79 triliun, serta peningkatan laba usaha 25,79 persen menjadi Rp 4,66 triliun. Pihak manajemen menilai penguatan pendapatan operational ini menjadi penopang utama keberlanjutan layanan publik.

"Pertumbuhan pendapatan menjadi modal penting bagi KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan, kesiapan sarana dan prasarana, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kinerja bisnis yang kuat juga mendukung keberlanjutan pengembangan layanan penumpang dan barang," ujar Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam keterangannya, Minggu (2/8/2026).

Per 30 Juni 2026, total aset KAI Group berada di angka Rp 104,79 triliun dengan ekuitas naik menjadi Rp 39,69 triliun. Di sisi lain, perseroan berhasil menekan liabilitas dari Rp 66,14 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp 65,11 triliun, di mana utang jangka pendek ikut menyusut ke posisi Rp 15,17 triliun.

Tekanan pada laba bersih perseroan dipicu oleh melonjaknya pembukuan rugi dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan dari Rp 948,20 miliar menjadi Rp 3,00 triliun pada semester I-2026. Kerugian ini salah satunya bersumber dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) selaku pemegang saham PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) yang mencatat rugi hingga Rp 5,13 triliun dengan liabilitas sebesar Rp 21,54 triliun.

Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyatakan tengah mengupayakan penyelesaian atas beban finansial yang menimpa KAI, khususnya terkait proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

"Kami yang baru ini kan sebetulnya menyelesaikan problem-problem yang ada ya. Problem-problem ini kan sudah ada sebelumnya dengan dimensi yang luar biasa besarnya kan. Nah tentu energinya juga terbatas, satu-satu harus diberesin," ujar Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author