Kepala BGN Ungkap Penyebab Keracunan Siswa Setelah Santap MBG di Jayapura
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap penyebab keracunan yang menimpa 80 siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kasus ini terjadi karena proses memasak makanan dilakukan terlalu cepat dan tidak sesuai jadwal, sehingga berdampak pada kualitas makanan yang disajikan.
Sudaryono menjelaskan bahwa masak MBG di Jayapura dimulai sekitar pukul 7 atau 7.30 pagi pada hari sebelumnya untuk dikirimkan pada pukul 11 siang, yang sudah melanggar ketentuan.
"Kalau di Papua, kita lihat dari log dapurnya, kan kita ada sistem log-nya, kapan persiapan, kapan masak. Jadi memang memulai masaknya kecepatan, kalau enggak salah jam 7 atau setengah 8 di hari sebelumnya untuk dikirimkan di hari berikutnya di jam 11," ujar Sudaryono di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (5/8/2026).
"Jadi itu sudah melanggar. Termasuk yang di Semarang juga sama, mulai masak jam 9 malam," tambahnya.
Sudaryono menegaskan jika ditemukan unsur kesengajaan atau sabotase dalam pelaksanaan program MBG, pihaknya tidak segan mengambil tindakan tegas dan menyerahkan kasusnya ke kepolisian.
"Kalau memang ada unsur-unsur lain, ya misalnya ada unsur kesengajaan, sabotase dan lain-lain, kami tidak segan-segan untuk kemudian diperiksa oleh pihak kepolisian," ucapnya.
Lebih lanjut ia menegaskan bahwa BGN tidak akan membela siapa pun yang terbukti melakukan pelanggaran dalam program MBG.
"Memang kalau ada, ya kita serahkan semua. Bukan kemudian kita tutup-tutupi atau kemudian kita bela-bela. Kalau salah ngapain dibela," kata Sudaryono.
Hingga Rabu dini hari, sebanyak 80 siswa yang mengalami gejala keracunan telah dirujuk ke beberapa fasilitas kesehatan, seperti RSUD Yowari, Puskesmas Harapan, Puskesmas Sentani, Puskesmas Waibu, dan RSUP Jayapura.
Para siswa mengeluhkan mual, pusing, dan badan lemas, lalu mendapatkan penanganan medis di tempat masing-masing.
Polres Jayapura melakukan penyelidikan dengan mengamankan lokasi dapur MBG dan rumah koordinator program untuk olah tempat kejadian perkara serta melakukan pemeriksaan sampel makanan di laboratorium forensik.
Kasat Reskrim Polres Jayapura AKP Markus Axel Panggabean mengatakan langkah cepat dilakukan setelah menerima laporan masyarakat terkait insiden tersebut.
"Begitu menerima laporan masyarakat, personel langsung mendatangi lokasi, melakukan olah TKP, mengamankan barang bukti, serta berkoordinasi dengan Laboratorium Forensik Polda Papua untuk pemeriksaan sampel makanan," ujar Axel.
Kasus serupa juga terjadi di SMK Negeri 6 Semarang, di mana ratusan siswa dilaporkan keracunan usai makan MBG yang dimasak terlalu dini, sekitar pukul 21.00 WIB malam sebelumnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Abdul Hakam menjelaskan bahwa sampel makanan dari menu MBG yang diduga menyebabkan keracunan, seperti rendang, daun singkong, dan telur puyuh, sedang diuji di laboratorium.
"Kalau hasil pastinya belum selesai ya. Karena sampelnya ini kan harus dibiakkan dulu untuk menemukan apakah positif kuman atau bakteri. Butuh dilakukan yang namanya pemeriksaan kultur bakteri di sampel-sampel yang dicurigai," ujar Abdul Hakam.
Dari asesmen terhadap siswa yang mengalami gejala, sekitar 49 persen mengeluhkan menu rendang, 40 persen telur puyuh, dan sisanya daun singkong.
Hakam menyebut dugaan keracunan biasanya terkait paparan bakteri Staphylococcus, Escherichia coli, dan Salmonela, namun kepastiannya menunggu hasil laboratorium.
Selain itu, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan MBG untuk SMK 6 Semarang dan sekolah lain hanya memenuhi sebagian standar operasional prosedur (SOP), yakni distribusi, penyajian kepada siswa, dan bahan baku, dari total 19 SOP yang dipersyaratkan.
Dalam penindakan terkait berbagai pelanggaran program MBG, BGN telah mencopot 137 kepala dapur MBG di sejumlah daerah sebagai bentuk penegakan disiplin.
Selain itu, Sudaryono mengungkapkan kasus keracunan satu keluarga akibat siswa membawa pulang MBG untuk dikonsumsi bersama keluarga, yang sebenarnya tidak dianjurkan.
"Dapurnya ya kemudian sudah diberikan ke siswanya di waktu yang juga masih sesuai, ya. Benar itu jam 9, jam 10, dan bener dari mulai selesai masak sampai dimakan itu ya, bener. Tapi kemudian dia bungkus, dibawa pulang dan dikonsumsi bersama keluarga yang lain. Sehingga yang keracunan bukan hanya siswanya tapi termasuk anggota keluarga yang mengkonsumsi makanan itu," jelas Sudaryono.
Untuk mengatasi hal ini, BGN telah menunjuk guru sebagai Person in Charge (PIC) yang diberi insentif untuk mengedukasi siswa terkait tata krama makan, kebersihan, penyusunan ompreng, serta kandungan gizi guna menghindari kesalahan konsumsi makanan MBG.
"Jadi di sekolah itu sudah ada namanya PIC yang sudah ada insentifnya. Jadi guru di sekolah itu tidak terganggu mengajarnya karena Makan Bergizi. Bahkan guru itu kemudian juga menjadi bagian dari penerima manfaat MBG dalam tujuannya adalah untuk mengedukasi siswa-siswanya," ujar Sudaryono.
"Edukasi terkait tata kramanya, mengantrinya, cuci tangannya, ya, kemudian nyusun omprengnya, berdoanya, bersyukurnya, dan lain-lain. Termasuk juga menjelaskan kandungan gizinya dan mencegah tadi itu, yang ini jangan dibawa pulang, yang ini gitu. Jadi kita ke depan ini kita berusaha untuk bagaimana fungsi-fungsi edukasi ini betul-betul secara konsekuen itu kita terapkan," tambahnya.