Kebakaran Lahap Hutan Pinus Gunung Nona di Enrekang
Kebakaran hutan melanda kawasan Gunung Nona di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu sore tersebut melahap habis sekitar 10 are kawasan hutan pinus, seperti dilansir dari Detik Travel. Area yang terdampak Si Jago Merah merupakan wilayah hutan lindung.
Padahal, lokasi tersebut sebelumnya telah dipagari oleh Dinas Kehutanan Enrekang untuk menjaga kelestariannya. Gunung Nona dikenal sebagai salah satu destinasi unik di Sulawesi Selatan. Masyarakat setempat juga menyebut objek wisata perbukitan ini dengan nama Buttu Kabobong.
Nama Gunung Nona disematkan karena bentuk ukiran lembahnya yang menyerupai kelamin wanita. Penampakan unik tersebut hanya terlihat jelas jika dilihat dari sudut posisi yang tepat di hadapannya.
Jika dipandang dari kejauhan, perbukitan ini tampak seperti pegunungan pada umumnya. Letaknya berada di Jalan Poros Enrekang-Toraja dan dapat ditempuh sekitar 6 jam perjalanan darat dari Makassar. Di balik bentuknya yang unik, warga lokal menganggap kawasan ini sebagai tempat suci. Menurut mitos setempat, Gunung Nona memiliki pasangan yaitu Gunung Bambapuang yang dipercaya sebagai titik awal peradaban manusia di Sulawesi Selatan.
Tradisi lokal percaya bahwa pasangan yang ingin menikah disarankan melakukan pertapaan di kedua gunung tersebut. Pihak pria bertapa di Gunung Bambapuang, sedangkan pihak wanita di Gunung Nona untuk mendapatkan petunjuk pernikahan.
Dampak Kebakaran dan Penutupan Akses
Sebelum insiden kebakaran terjadi, wisatawan biasa menikmati keindahan Gunung Nona dari warung-warung di sekitarnya. Banyak pengunjung bersantai menikmati udara dingin sambil meminum kopi hangat di tempat yang disediakan.
Pasca-kejadian kebakaran hutan pinus tersebut, seluruh aktivitas masyarakat di kaki Gunung Nona dihentikan sementara. Polisi kehutanan kini memperketat akses masuk dan melakukan penjagaan rutin di kawasan tersebut.