Investor Asing Berebut Masuk Proyek Pengolahan Sampah Indonesia
Pemerintah tengah gencar mendorong proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang kini sangat diminati oleh para investor asing dari berbagai penjuru dunia.
Tingginya minat tersebut tercermin dari lonjakan jumlah peserta lelang proyek, seperti yang dilansir dari Detik Finance pada Kamis (16/7/2026).
Pada proses penawaran tahap pertama, tercatat ada 24 korporasi yang lolos seleksi dari ratusan peminat untuk berpartisipasi dalam bidding.
Jumlah peserta lelang kemudian mengalami peningkatan signifikan menjadi 85 perusahaan pada fase kedua.
"Ini ada 85 (perusahaan). Ada yang dari Eropa, ada yang dari China juga ada, dari Jepang, Korea, Singapur, Timur Tengah, jadi jauh lebih diversified," kata Pandu dalam acara Waste to Energy Talks, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026).
Kepala Investasi (CIO) BPI Danantara Pandu Sjahrir menjelaskan bahwa besarnya minat ini membuktikan proyek pemanfaatan sampah menjadi listrik mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
Sekalipun Danantara menetapkan berbagai kriteria ketat untuk terlibat dalam pengerjaan, para investor global tetap menunjukkan antusiasme yang luar biasa.
"Rupanya private sector sangat tertarik walaupun kita di situ sudah taruh peraturan Anda harus bawa financing-nya, kedua Anda harus make sure punya track record dengan teknologi," paparnya.
Pandu juga memastikan bahwa penyaringan perusahaan mitra dilakukan secara sangat transparan dan ketat, terutama mengenai keragaman asal negara korporasi terkait.
Langkah objektif ini ditempuh guna memitigasi risiko kerja sama dengan satu negara tertentu apabila di kemudian hari terjadi kendala.
"So far prosesnya sangat ketat, Alhamdulillah semua mencoba melobi, Alhamdulliah kita seobjektif mungkin dan kita juga make sure ini bukan satu dua perusahaan saja yang menang," jelas Pandu.
Penyebaran mitra juga diatur agar pengerjaan proyek tidak didominasi oleh segelintir korporasi raksasa di banyak wilayah sekaligus.
"Because if we go with full objectivity, one player could win 3-4 locations. But we must maintain balance, and it cannot be from just one nation. Otherwise, there will be counterparty risk for us.
If anything happens, we are tied to that country. So we make sure that these are from several different countries," ujarnya lagi.
Selain badan usaha mancanegara, sejumlah korporasi domestik dengan rekam jejak mumpuni di sektor energi lokal juga digandeng sebagai mitra pengembang PSEL tahap kedua.
Danantara mengumumkan terdapat delapan konsorsium terpilih untuk menggarap delapan titik wilayah proyek strategis nasional ini.
"Perusahaan lokal juga memiliki track record yang cukup pas, enggak bisa terlalu kecil nanti bisa menimbulkan risk kepada daerah-daerah yang ada. Kita perlu sudah ada track record juga dari perusahan nasional tersebut, paling tidak dalam urusan energi, dalam urusan di local area tersebut," jelas dia.
Mitra terpilih tersebut mencakup SUEZ-IAN Consortium untuk wilayah Medan Raya, Consortium Everbright Cemerlang Energy di Kabupaten Bekasi, dan Bumi Biru Indonesia di Lampung Raya.
Selanjutnya adalah Masa Depan Energi Indonesia di Serang Raya, Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd di Semarang Raya, Consortium Mentari Citra Lestari di Surabaya Raya, MPM-CEVIA Consortium di Bogor Raya 2, serta Cakra Energi Lestari Consortium di Yogyakarta Raya.
Sebanyak empat dari delapan konsorsium pemenang dipimpin oleh entitas dalam negeri, sementara sisanya dikomandoi oleh perusahaan asal Prancis dan Tiongkok.
"Ada yang dari dalam negeri, ada yang dari luar negeri. Baik dari Prancis, Tiongkok, ada juga yang dari Indonesia. Kita nggak bisa juga tergantung pada satu tempat Kita harus diversifikasi," tegasnya.