Indeks Bisnis UKM Hong Kong Meningkat Jadi 44,1
Hong Kong Productivity Council mengumumkan Indeks Pemimpin Bisnis UKM Standard Chartered Hong Kong untuk kuartal ketiga tahun 2026 meningkat sebesar 0,8 poin menjadi 44,1 pada Kamis, 9 Juli 2026.
Kenaikan tipis ini menghentikan tren penurunan sebelumnya yang didorong oleh pemulihan kepercayaan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Faktor utama pendorong sentimen ini adalah meredanya ketegangan geopolitik global serta tingginya permintaan ekspor berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI).
Meskipun mengalami pemulihan, angka komposit ini masih berada di bawah ambang batas netral 50,0 yang menunjukkan bahwa pelaku usaha masih bersikap waspada. Di sisi lain, sub-indeks Ekonomi Global mencatat lonjakan paling signifikan sebesar 12,2 poin hingga mencapai angka 33,1.
Sektor Perdagangan Impor/Ekspor dan Grosir memimpin pemulihan eksternal dengan lonjakan sub-indeks masing-masing sebesar 15,6 poin, disusul sektor Layanan Profesional dan Bisnis sebesar 15,3 poin. Sementara itu, sub-indeks Kondisi Bisnis jangka pendek berada di angka 40,5 dan Kinerja Keuntungan tertahan di posisi 37,8.
Chief Marketing Officer Hong Kong Productivity Council, Karen Fung, memberikan pandangan mengenai kondisi internal yang dihadapi para pelaku usaha lokal tersebut.
Fung menginterpretasikan hal ini sebagai cerminan dari ketidakmampuan UKM untuk merasa percaya diri sepenuhnya terhadap kinerja bisnis jangka pendek dan prospek keuntungan.
Berdasarkan data survei, tekanan biaya tetap tinggi dengan 64 persen UKM memperkirakan kenaikan biaya bahan baku. Namun, hanya 19 persen pelaku usaha yang berencana menaikkan harga jual produk atau layanan mereka akibat ketatnya kompetisi pasar.
Analis senior dari Standard Chartered kemudian memberikan pemaparan mendalam terkait daya tawar harga yang dimiliki oleh para pelaku UKM di tengah situasi pasar saat ini.
"a phenomenon commonly observed globally." kata Kelvin Lau, Standard Chartered Senior Economist for Greater China and North Asia.
Lau menjelaskan bahwa pelonggaran kekhawatiran pasar sejak perjanjian gencatan senjata AS-Iran pada April lalu turut menstabilkan ekspektasi operasional perusahaan seiring penurunan harga minyak mentah. Sektor ekspor Hong Kong yang 70 persen di antaranya terkait elektronik dan AI juga diuntungkan oleh siklus super AI global yang tidak terganggu geopolitik.
Meski prospek ekspor dinilai positif berkat investasi pusat data dari AS, China, dan Eropa, Lau mengingatkan adanya dampak lanjutan dari biaya energi. Inflasi harga konsumen diperkirakan akan menekan pengeluaran masyarakat serta memangkas margin profitabilitas UKM pada paruh kedua tahun ini, terutama di sektor ritel yang indeksnya turun 1,0 poin menjadi 41.6.