Donald Trump Pindah Pesawat Saat Tinggalkan Turki Akibat Ancaman Iran

Share

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan berpindah dari pesawat kepresidenan Air Force One baru ke pesawat militer C-32A yang lebih kecil saat berangkat dari Turki menuju Inggris, sebagaimana dilansir dari Detik Travel. Langkah pengalihan penerbangan secara mendadak selepas menghadiri KTT NATO tersebut diambil menyusul adanya ancaman pembunuhan terhadap Trump dari pihak Iran, berdasarkan laporan The Washington Post. Trump yang awalnya tiba di Ankara dengan Air Force One pemberian Qatar pada 8 Juli lalu berpindah menggunakan kontainer katering ke pesawat C-32A untuk mengecoh publik serta media agar mengira dirinya tetap di pesawat utama.

Laporan media Amerika Serikat, termasuk The New York Times, mengonfirmasi bahwa ancaman dari kelompok proksi Iran menjadi pertimbangan utama pengubahan rencana penerbangan tersebut. Selama penerbangan dari Ankara, para jurnalis di dalam pesawat lama bahkan diperintahkan menutup tirai jendela layaknya prosedur di zona perang.

Isu keamanan ini turut memicu sorotan terhadap Air Force One hibah Qatar yang disebut-sebut belum dilengkapi sistem pertahanan antirudal seperti pesawat kepresidenan lama. Pihak Istana Kepresidenan Amerika Serikat membantah tuduhan mengenai celah keamanan pada armada baru yang digunakan oleh sang presiden tersebut.

"Air Force One yang baru merupakan pesawat canggih yang telah dilengkapi protokol keamanan tingkat tinggi untuk memastikan keselamatan Presiden dan stafnya," kata Direktur Komunikasi Steven Cheung. Gedung Putih menegaskan komitmennya untuk terus mengantisipasi berbagai potensi bahaya yang mengincar pemimpin negara.

"Seperti yang baru-baru ini disampaikan Presiden, ada banyak musuh Amerika yang mengincarnya, dan kami menggunakan segala sarana yang tersedia untuk menangani ancaman tersebut," kata Direktur Komunikasi Steven Cheung. Pernyataan serupa sebelumnya juga telah disampaikan oleh pihak Gedung Putih saat kesiapan sistem keamanan pesawat tersebut pertama kali dipertanyakan publik.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author