Cara Menghadapi Orang yang Suka Merendahkan Menurut Psikolog
Sikap merendahkan sering kali dialami di lingkungan kerja, keluarga, maupun pertemanan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai. Menyampaikan respons tepat dan menetapkan batasan tegas dapat membantu lawan bicara memahami bahwa tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan, seperti dilansir dari HaiBunda.
Psikolog dan Wakil Presiden Perawatan Klinis di Octave, Dr. Golee Abrishami, PhD, menjelaskan bahwa rasa tidak aman menjadi alasan paling umum seseorang bersikap meremehkan. Perilaku tersebut dilakukan untuk membuat diri mereka merasa lebih aman atau superior di posisinya.
"Seseorang yang bersikap merendahkan berbicara dengan nada meremehkan kepada orang lain untuk mencoba membuat diri mereka merasa lebih baik atau lebih aman di posisi mereka," kata Dr. Golee Abrishami, PhD.
Penyebab lainnya meliputi keyakinan berlebihan akan superioritas diri, ketidakmampuan membaca situasi, stres, hingga sikap defensif. Menghadapi situasi ini akan lebih mudah jika seseorang sudah menyiapkan tanggapan sejak awal.
Psikolog Dr. Maryam Kia-Keating Abrishami menyarankan satu kalimat sederhana namun efektif untuk merespons situasi tersebut.
"Menurutku, kamu sebenarnya tidak bermaksud mengatakannya seperti yang terdengar," ujar Dr. Maryam Kia-Keating Abrishami.
Ungkapan ini dinilai efektif karena tidak memicu pertengkaran, sekaligus menegaskan batasan tanpa perlu membalas dengan sikap buruk. Respons tersebut juga mendorong lawan bicara memikirkan ulang ucapannya.
Selain ucapan utama tersebut, terdapat beberapa opsi kalimat lain yang dapat digunakan untuk menegaskan batasan diri secara sopan.
"Terima kasih, tapi saya akan memberi tahu Anda jika saya perlu penjelasan lagi," merupakan ungkapan sopan yang secara tegas menunjukkan batasan perlakuan yang diinginkan.
Opsi berikutnya adalah kalimat untuk merespons nasihat yang tidak diminta atau perlakuan yang meremehkan kemampuan.
"Saya akan mempertimbangkan hal itu," dapat diucapkan untuk mengakui ucapan lawan bicara tanpa harus menerima pendapat mereka secara langsung.
"Frasa ini bagus karena mengakui bahwa kamu telah mendengar orang lain, tetapi tidak bereaksi atau langsung menerima apa yang mereka katakan hanya karena mereka bertindak terlalu superior," tutur Abrishami.
Penggunaan kalimat tersebut mempermudah alih topik pembicaraan dari diskusi yang tidak bermanfaat. Pilihan kalimat terakhir berfungsi menuntut refleksi dari lawan bicara.
"Apakah kamu menjelaskan itu kepada saya atau hanya berpikir keras?" menjadi respons yang memaksa orang tersebut menyadari, mengakui, atau menarik kembali perkataannya.