Bank Indonesia Intervensi Pasar Respons Pelemahan Rupiah ke Rp17.925

Share

Bank Indonesia memperkuat koordinasi lintas sektor guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang melemah hingga 0,49 persen ke level Rp17.925 per dolar Amerika Serikat pada Rabu (3/6/2026) siang pukul 11:30 WIB. Pelemahan mata uang nasional yang menjadi posisi terendah sepanjang sejarah ini melanjutkan tren penurunan dari bulan sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.

Sinergi yang diperkuat mencakup kerja sama dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, sektor perbankan, dunia usaha, serta para pelaku pasar. Langkah strategis ini diambil demi mengantisipasi volatilitas yang terjadi di pasar keuangan domestik maupun global.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa otoritas moneter memandang pentingnya kolaborasi ini dalam menghadapi dinamika pasar.

“Guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” kata Denny dalam keterangan resmi, Rabu (3/6/2026).

Bank Indonesia berkomitmen untuk tetap memantau pergerakan pasar secara konsisten dan terukur. Kehadiran bank sentral di pasar ditujukan untuk memitigasi risiko eksternal yang terus membayangi perekonomian domestik.

“Bank Indonesia terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,” jelas dia.

Sebagai bagian dari langkah stabilisasi, Bank Indonesia menetapkan batas ambang tunai pembelian valas terhadap rupiah tanpa underlying sebesar US$25.000 per pelaku per bulan sejak 2 Juni 2026. Selain itu, optimalisasi Local Currency Transaction juga digalakkan untuk menekan ketergantungan pada mata uang dolar Amerika Serikat.

“Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab,” tuturnya.

Tekanan ganda terhadap pergerakan rupiah dipicu oleh faktor domestik dan eksternal, termasuk lonjakan inflasi Mei yang mencapai 3,08 persen. Kenaikan harga terjadi di hampir semua sektor pengeluaran, dengan perawatan pribadi melonjak 10,35 persen dan makanan minuman naik 4,94 persen.

Meskipun indeks manufaktur S&P Global merangkak naik ke posisi 50 dari sebelumnya 49,1 pada April, aktivitas sektor ini diproyeksikan masih fluktuatif. Pemulihan ekonomi berjalan bertahap setelah sempat melambat akibat ketidakpastian geopolitik Timur Tengah dan berakhirnya siklus Lebaran.

Dari faktor global, indeks dolar Amerika Serikat masih bertahan tinggi di level 99,07 bersamaan dengan harga minyak mentah dunia di posisi US$93,44 per barel. Kondisi ini memperparah defisit ganda Indonesia, yakni pada fiskal dan neraca transaksi berjalan.

Bank Indonesia mencatat defisit Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 membengkak menjadi US$9,15 miIiar dari kuartal sebelumnya sebesar US$6,07 miliar. Pada periode yang sama, transaksi berjalan mengalami defisit sebesar US$4 miliar atau 1,1 persen dari Produk Domestik Bruto, berbanding terbalik dari surplus US$2,5 miliar pada kuartal sebelumnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author