Mengenal Bacaan Tawasul Lengkap Beserta Jenis dan Maknanya

Share

Umat Islam kerap mengamalkan tawasul sebagai bentuk ikhtiar dalam memanjatkan doa kepada Allah SWT. Amalan ini dilakukan dengan menggunakan perantara berupa amal saleh atau orang-orang saleh, seperti dilansir dari HaiBunda.

Pemahaman mengenai tawasul kerap menimbulkan kekeliruan di masyarakat. Praktik ini bukan bertujuan meminta pertolongan kepada perantara, melainkan tetap memohon dan berdoa secara langsung hanya kepada Allah SWT.

Tawasul menjadi salah satu cara yang umum dikerjakan oleh warga Nahdliyin saat berdoa. Pelaksanaannya memanfaatkan wasilah, yaitu segala sesuatu yang dijadikan sebab untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT agar harapan dikabulkan.

Landasan amalan ini termaktub dalam Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 35. Ayat tersebut berisi perintah bagi orang beriman untuk bertakwa dan mencari jalan atau wasilah guna mendekatkan diri kepada-Nya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman takutlah kamu kepada Allah, dan carilah jalan (wasilah/perantara)."

Empat Macam Tawasul

Pelaksanaan tawasul terbagi ke dalam beberapa bentuk berdasarkan perantara yang digunakan. Berikut empat jenis tawasul yang dapat dipahami:

1. Tawasul bi Asmaillah

Tawasul bi Asmaillah merupakan tingkatan tertinggi yang dilakukan dengan menyebut Asmaul Husna atau nama-nama indah Allah SWT. Pengamalan ini biasanya dibaca saat seseorang memohon kesembuhan dari penyakit.

2. Tawasul bi A'mal Shalihat

Bentuk tawasul ini memanfaatkan perantara amal saleh yang pernah dikerjakan. Dalam kitab Riyadus Shalihin, Kiai Wazir mengisahkan tiga sahabat yang terperangkap di dalam gua akibat tertutup batu besar.

Mereka kemudian berdoa dengan menyebutkan amal terbaik masing-masing, salah satunya berupa amalan bakti kepada orang tua atau birrul walidain. Atas izin Allah SWT, batu penyumbat gua tersebut akhirnya bergeser.

3. Tawasul bi Shalihin

Tawasul ini menggunakan perantara orang-orang saleh, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Salah satu contohnya terjadi pada kisah sahabat bermata buta yang bertawasul melalui Rasulullah SAW hingga memperoleh kesembuhan.

Kiai Wazir turut menerangkan bahwa Nabi Adam AS pernah bertawasul menyebut kemuliaan Nabi Muhammad SAW saat memohon ampunan. Imam Syafii juga diriwayatkan bertawasul melalui gurunya, Imam Abu Hanifah, ketika menghadapi persoalan rumit.

4. Tawasul bi Zat

Praktik tawasul jenis ini dilaksanakan melalui bi jahi atau kedudukan, bi hurmati atau kemuliaan, serta bi karamati atau kemurahan dari perantara yang dituju.

Rangkaian Bacaan Tawasul Lengkap

Rangkaian bacaan tawasul diawali dengan pembacaan istighfar sebanyak tiga kali untuk memohon ampunan.

اَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ

Artinya: "Aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung."

Tahap berikutnya dilanjutkan dengan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai bentuk pengakuan keimanan.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Artinya: "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."

Prosesi kemudian diteruskan dengan membaca doa tawasul dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya.

سْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ اَلَّلهُمَّ صَلِّ اَفْضَلَ الصَّلَاةِ عَلَى اَسْعَدِ مَخْلُوْقَا تِكَ نُوْرِ الْهُدَى سَيِّدِ نَا مَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَعْلُوْ مَا تِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّا كِرُوْنَ وغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ

اَلَّهُمَّ صَلِّ اَفْضَلَ الصَّلَاةِ عَلَى اَسْعَدِ مَخْلُوْ قَاتِكَ شَمْسِ الضُّحَى سَيِّدِ نَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى اَلِ سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَعْلُوْ مَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكَرُ وْنَ وَغَفَلَ عَنْذِ كْرِكَ الْغَا فِلُوْنَ.

الَّلهُمَّ صَلِّ اَفْضَلَ الضَّلَاةِعَلَى اَسْعَدِ مَخْلُوْ قَاتِكَ بَدْ رِالدُّجَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَعْلُوْمَا تِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّا كِرُوْنَ وَغَفَلَ عَنْذِ كْرِكَ الْغَافِلُوْنَ . وَسَلِّمْ وَرَضِىَ اللهُ تَعَلَ عَنْ سَادَاتِنَا اَصْحَبِ رَسُوْلِ اللهِ اَجْمَعِيْنَ .

Artinya: "Ya Allah, tambahkanlah kesejahteraan yang paling utama kepada makhluk Engkau yang paling bahagia, yang menjadi sinar petunjuk, penghulu, dan pemimpin kami, yaitu Nabi Muhammad dan kepada keluarga penghulu kami Nabi Muhammad sebanyak tinta kalimat-kalimat Engkau, tatkala orang-orang yang ingat berdzikir dan tatkala orang-orang yang lupa tidak berdzikir kepada Engkau.

Ya Allah, tambahkanlah kesejahteraan yang paling utama kepada makhluk Engkau yang paling bahagia, yang menjadi penerang laksana matahari di waktu dhuha, penghulu, dan pemimpin kami, yaitu Nabi Muhammad dan kepada keluarga penghulu kami Muhammad, sebanyak bilangan yang Engkau ketahui dan sebanyak tinta kalimat-kalimat Engkau, ketika orang-orang yang ingat berdzikir dan tatkala orang-orang yang lupa tidak berdzikir kepada Engkau.

Ya Allah, tambahkanlah kesejahteraan yang paling utama kepada makhluk Engkau yang paling bahagia, yang menjadi penerang laksana bulan purnama di waktu gelap, penghulu, dan pemimpin kami, yaitu Nabi Muhammad, sebanyak bilangan yang Engkau ketahui dan sebanyak tinta kalimat-kalimat Engkau, ketika orang-orang yang ingat berdzikir kepada Engkau dan ketika orang-orang yang lupa tidak berdzikir kepada Engkau, dan tambahkanlah keselamatan. Mudah-mudahan Allah memberi keridhaan kepada para penghulu kami, yaitu semua para sahabat Rasulullah."

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author