Astra Agro Kembangkan Varietas Sawit Unggul untuk Dongkrak Produksi

Share

Laju pertumbuhan konsumsi minyak nabati global tercatat melampaui kapasitas produksinya sepanjang rentang 2020 hingga 2025. Data Oil World menunjukkan produksi hanya tumbuh rata-rata 2,6 persen per tahun, sedangkan tingkat konsumsi melonjak 2,7 persen per tahun. Kesenjangan pasokan diperkirakan makin melebar di masa depan.

Tanpa pembukaan lahan baru demi perlindungan lingkungan, produksi minyak nabati dunia diproyeksikan stagnan di angka 227 juta ton hingga 2050, padahal kebutuhan diprediksi menembus 365 juta ton pada 2050. Indonesia yang menopang 22 persen pasokan minyak nabati dunia lewat komoditas sawit menghadapi dilema tersebut. Dilansir dari Detik Finance, pendekatan riset dan pemuliaan tanaman menjadi solusi utama untuk mendongkrak efisiensi lahan.

Inovasi bibit berproduktif tinggi terus ditempuh guna mengatasi keterbatasan area perkebunan. Proses pembuatan varietas baru ini membutuhkan riset panjang hingga kurun waktu satu dekade.

Pada 2021, PT Astra Agro Lestari resmi melepas tiga varietas unggul yang memperoleh pengakuan Kementerian Pertanian. Tiga varietas tersebut meliputi DxP AAL Lestari, DxP AAL Sejahtera, dan DxP AAL Nirmala. Ketiga bibit tersebut memiliki tiga keunggulan mendasar. Keunggulan itu mencakup produktivitas tandan buah segar (TBS) yang tinggi, pertumbuhan tinggi tanaman yang lambat, serta perbandingan bunga betina (sex ratio) yang optimal.

Potensi panen TBS varietas ini mencapai 30 hingga 32 ton per hektare per tahun. Angka ini berada jauh di atas rata-rata hasil perkebunan rakyat. Tingkat rendemen CPO yang dihasilkan terbilang tinggi, yakni pada kisaran 26 sampai 29 persen. Secara konversi, varietas ini mampu menghasilkan 8,6 hingga 9,2 ton minyak per hektare setiap tahunnya.

Plant Breeding Expert PT Astra Agro Lestari, Ardha Apriyanto, menjelaskan bahwa volume panen sangat bergantung pada dua parameter fisik tanaman. Parameter tersebut meliputi jumlah tandan serta berat tiap tandan. "Kalau ingin produksi naik, yang dicari adalah jumlah tandannya lebih banyak dan tandannya juga lebih besar.

Pada akhirnya produktivitas dihitung dari volume atau tonase yang dihasilkan," kata Ardha Apriyanto. Laju pertumbuhan tinggi tanaman ini tergolong lambat, hanya sekitar 39 hingga 42 sentimeter per tahun. Karakteristik ini mempermudah proses pemanenan sekaligus menekan biaya operasional tenaga kerja.

Tingginya proporsi bunga betina juga memperbesar peluang pembentukan buah. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan tonase kelapa sawit.

Penerapan Replanting dan Generasi Tahan Ganoderma

Penerapan bibit unggul telah berjalan sejak 2023 melalui program peremajaan tanaman (replanting). Perusahaan meremajakan area perkebunan secara bertahap sekitar 5.000 hektare setiap tahun. Penggantian difokuskan pada pohon yang berumur sekitar 30 tahun karena nilai ekonomisnya sudah menurun.

Langkah bertahap diambil untuk mencegah penurunan total volume produksi harian. "Tanaman yang kita ganti itu usia sekitar 30 tahun karena memang target produksinya sudah tidak tercapai, udah nggak ekonomis lagi. Dan tanamannya juga sudah tinggi biasanya.Kalau sudah tinggi akan susah panennya biasanya." kata Ardha Apriyanto.

Evaluasi terhadap tanaman muda terus dilakukan untuk memastikan performa produksi maksimal. Perusahaan masih memantau hasil perkembangan tanaman sebelum memutuskan penggunaan bibit secara menyeluruh di masa mendatang.

"Ini masih tahap belajar berbuah. Kami masih mengevaluasi apakah pola perawatannya perlu disesuaikan agar potensinya bisa keluar secara maksimal," ujar Ardha Apriyanto. Pada 2025, perusahaan kembali merilis tiga varietas mutakhir, yaitu DxP AAL Lestari MRG, DxP AAL Sejahtera MRG, dan DxP AAL Nirmala MRG. Generasi terbaru ini dibekali ketahanan terhadap serangan jamur Ganoderma yang kerap memicu busuk pangkal batang.

Varian generasi MRG mencatatkan potensi TBS hingga 32,7 ton per hektare per tahun dengan rata-rata bobot tandan 12,2 kilogram. Tingkat rendemen CPO mencapai 28,9 persen atau setara dengan 9,9 ton minyak per hektare per tahun.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author