Kebijakan Ekspor Satu Pintu Tunda Impor Batu Bara China
Kebijakan Pemerintah Indonesia menerapkan skema ekspor komoditas satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) memicu penundaan impor batu bara oleh pihak pembeli dari China, dilansir dari Bloombergtechnoz pada Kamis (4/6/2026).
Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China (CCTD) dalam konferensi pers pada Rabu (3/6/2026) menyatakan bahwa sejumlah pembeli asal China telah menunda impor untuk bulan Juni akibat langkah pemusatan ekspor tersebut.
Langkah pemusatan ekspor ini dinilai memperlambat proses transaksi perdagangan, memicu kenaikan harga komoditas di pasar, serta memperketat volume pasokan yang tersedia.
Selain kebijakan satu pintu, Indonesia telah memotong kuota produksi batu bara tahun 2026 menjadi berkisar 600 juta ton sekaligus memperbesar kewajiban pasokan pasar domestik demi pembangkit listrik lokal.
Ketua Bidang Hubungan Industri Perhapi, Ardhi Ishak Koesen mengonfirmasi adanya dampak langsung dari kebijakan PT DSI terhadap aktivitas perdagangan dengan negara mitra.
"Pastilah, kalau itu pasti ada ekses [dampak] dari Danantara, terkait policy [kebijakan] kemarin [PT DSI]," ungkap Ardhi Ishak Koesen, Ketua Bidang Hubungan Industri Perhapi.
Ardhi menilai ketidakpastian ini terjadi karena pemerintah pusat belum menerbitkan aturan pelaksana teknis mengenai skema ekspor satu pintu, sehingga memengaruhi tingkat kepercayaan para importir.
"Iya, setelah pengumuman [PT DSI] belum ada regulasinya, kan kita cuma pernyataan-pernyataan kan. Ya antara percaya enggak percaya, kan belum ada regulasinya, PP [Peraturan Pemerintah]-nya saja belum keluar," kata Ardhi.
Kendati terjadi penundaan kontrak di tingkat operasional, Perhapi memproyeksikan situasi ini tidak akan berkembang hingga tahap pembatalan pesanan mengingat besarnya volume kebutuhan China.
"Kalau ngomong kebutuhan ya harusnya sih mereka [China] menunda saja karena impornya gede. Harapannya cuma menunda, kalau impornya kecil sih bisa langsung switch ke negara lain," kata dia.
Hubungan dagang sektor energi ini menempatkan China sebagai negara pembeli komoditas batu bara terbesar dari Indonesia, yang kemudian diikuti oleh India pada posisi kedua.
"China sebagai pembeli terbesar kita. Kalau enggak salah ada hampir 200 jutaan ton [batu bara] China beli dari Indonesia. Lalu India ya [impor] sekitar 100-an [juta ton]. Kalau ditotal dari dua [negara] ini sudah sekitar 300 jutaan," katanya.