Matahari Berada Tepat di Atas Kakbah Dua Kali dalam Setahun

Share

Matahari akan berada tepat di atas Kakbah sebanyak dua kali dalam periode satu tahun. Fenomena alam ini berlangsung pada tanggal 27-28 Mei serta tanggal 15-16 Juli mendatang, dikutip dari Detikcom.

Peristiwa astronomis saat Matahari berada tepat di posisi atas Kakbah dikenal dengan istilah Rashdul Kiblat atau Istiwa A'zam. Ketika momen ini berlangsung, bayang-bayang dari benda yang diletakkan berdiri tegak lurus akan menunjukkan arah kiblat secara akurat.

Momen pada 27-28 Mei dan 15-16 Juli ini terjadi bersamaan dengan pergerakan semu tahunan Matahari. Pergerakan tersebut merupakan sebuah proses peralihan posisi Matahari dari khatulistiwa langit menuju ke belahan langit utara, dan sebaliknya dari belahan langit utara kembali menuju khatulistiwa langit, melansir informasi dari laman Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Posisi Matahari yang berada tepat di atas Kakbah dua kali setahun dipengaruhi oleh adanya kesesuaian siklus alam atau siklus astronomis. Kesesuaian perputaran ini disebut juga dengan istilah siklus metonik.

Siklus metonik merupakan periode astronomis yang berlangsung selama 19 tahun. Dalam kurun waktu ini, fase-fase Bulan akan kembali jatuh pada tanggal yang hampir persis sama di dalam sistem kalender Masehi.

Melalui perhitungan matematika, 19 tahun Matahari yang setara dengan 6.939,8 hari memiliki nilai yang sangat dekat dengan 235 bulan sinodik atau siklus fase Bulan dalam penanggalan Hijriah yang bernilai 6.939,6 hari.

Secara sederhana, tanggal pada sistem kalender Hijriah dan kalender Masehi akan berulang secara sama dalam kurun waktu 19 tahun sekali. Sebagai contoh, akhir bulan Zulkaidah 1427 H pada tahun 2006 silam serta akhir Zulkaidah 1446 H pada tahun 2025 sama-sama jatuh pada tanggal 27 Mei dengan jarak rentang waktu 19 tahun.

Momen Mengukur Ulang Akurasi Arah Kiblat

Berdasarkan catatan sejarah, metode Rashdul Kiblat ini berawal dari hasil pemikiran ilmuwan muslim terkemuka di bidang astronomi dan matematika, yakni Al Biruni. Pada sekitar tahun 1.000 Masehi, Al Biruni melakukan perhitungan arah kiblat saat posisi Matahari berada tepat di atas Kakbah, lalu mempelajari serta memperhitungkannya secara presisi.

Teori yang disampaikan oleh Al Biruni tersebut kemudian diperkuat oleh temuan ilmuwan muslim lainnya, yaitu Al Khazin dan Nasir Al Din Tusi. Bagi umat Muslim, fenomena astronomi ini dimanfaatkan sebagai waktu yang tepat untuk mengukur kembali tingkat keakuratan arah kiblat.

"Rashdul Kiblat menjadi kesempatan yang sangat baik bagi masyarakat untuk memeriksa kembali arah kiblat secara mandiri. Ketika matahari tepat berada di atas Ka'bah, arah bayangan benda tegak lurus akan mengarah berlawanan dengan arah kiblat," ujar Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, dikutip dari laman Kemenag, Senin (1/6/2026).

Arsad Hidayat menjelaskan bahwa metode Rashdul Kiblat merupakan salah satu bentuk pendekatan di dalam ilmu falak atau cabang ilmu astronomi. Mekanisme ini sudah sejak lama diimplementasikan untuk melakukan verifikasi arah kiblat, selain lewat bantuan alat kompas, teodolit, maupun aplikasi digital berbasis satelit.

"Jika arah kiblat yang digunakan selama ini sudah tepat, maka Rashdul Kiblat akan memperkuat ketepatan tersebut. Namun jika masih ada keraguan, ini menjadi waktu yang ideal untuk melakukan pengecekan kembali," ujarnya.

Langkah Praktis Mengecek Arah Kiblat

Masyarakat dapat melakukan pengecekan arah kiblat secara mandiri saat posisi Matahari tepat berada di atas Kakbah melalui beberapa tahapan berikut:

1. Gunakan benda yang posisinya benar-benar tegak lurus atau bisa juga memanfaatkan alat bantu berupa bandul.

2. Posisikan benda tegak lurus tersebut di atas permukaan tanah atau lantai yang kondisinya datar dan rata.

3. Perhatikan secara saksama arah bayangan yang dihasilkan oleh benda tersebut.

4. Posisi arah kiblat yang benar berada di sisi yang berlawanan dengan arah jatuhnya bayangan benda.

Proses pengecekan bayangan ini dapat dipraktikkan secara mudah di area halaman rumah atau ruang terbuka lain yang mendapatkan paparan sinar matahari langsung. Tingkat akurasi hasil arah kiblat akan semakin tinggi jika waktu pengukurannya dilakukan secara tepat.

Mengingat momen Rashdul Kiblat pada tanggal 27-28 Mei telah terlewat, masyarakat muslim masih dapat memanfaatkan fenomena Matahari tepat di atas Kakbah yang akan terjadi kembali pada tanggal 15-16 Juli mendatang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author