Prabowo Targetkan Proyek PLTS 100 GW Selesai Sebelum 2029
Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 GW agar selesai sebelum tahun 2029. Penegasan tersebut disampaikan saat menghadiri pembukaan KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, pada Jumat (8/5), sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari agenda transisi energi menuju kemandirian energi sekaligus memperkuat posisi Indonesia di ASEAN. Program yang pertama kali digagas pada Juni 2025 ini menargetkan bauran energi terbarukan 100 persen pada 2035.
Pemerintah merinci pembangunan infrastruktur ini terdiri atas PLTS tersebar sebesar 80 GW dan PLTS terpusat sebesar 20 GW. Proyek strategis tersebut menjadi bagian dari upaya mengejar target net zero emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Rencana implementasi program kemudian ditegaskan ulang pada Maret lalu oleh sejumlah instansi pemerintah sebagai strategi jangka pendek dan menengah untuk mengatasi krisis energi serta memangkas impor BBM. Institute for Essential Services Reform (IESR) memberikan catatan terkait fondasi eksekusinya.
"Pada periode awal atau take-off period, selain membangun tata kelola dan perencanaan, pemerintah perlu memprioritaskan program-program quick wins yang dapat langsung mengurangi konsumsi minyak diesel, membuka investasi, serta meningkatkan akses listrik bersih bagi masyarakat, dan membangun optimisme bahwa Indonesia dapat melaksanakan program yang ambisius ini," ujar Chief Executive Officer (CEO) IESR, Fabby Tumiwa, dalam keterangan tertulis, Sabtu (30/5/2026).
Fabby mengidentifikasi tiga agenda prioritas awal, yakni percepatan program dedieselisasi, akselerasi PLTS atap dan Battery Energy Storage System (BESS), serta pengembangan model pengelolaan PLTS desa melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) atau BUMDes. Dedieselisasi dinilai menjadi pintu masuk utama karena PLN mencatat ada sekitar 3.996 generator diesel di 1.234 lokasi terpencil dalam RUPTL 2025-2034.
"Bundling proyek dapat dilakukan secara selektif, khususnya pada wilayah dengan cakupan yang lebih kecil tetapi kapasitas proyek lebih besar. Pendekatan ini dapat mengurangi kompleksitas logistik, meningkatkan skala keekonomian, dan membuat proyek lebih bankable bagi investor," terang Fabby.
Selain sistem terisolasi, efisiensi bahan bakar melalui program fat burning pada sistem kelistrikan besar juga disorot. Konsumsi BBM PLN saat ini masih menyentuh angka sekitar 4 juta kiloliter per tahun dengan biaya tinggi, sehingga substitusi sebagian peran PLTD oleh PLTS dan BESS dapat memicu penghematan besar.