Pemerintah Australia Perbarui Peringatan Perjalanan Pasca Gempa Jepang
Pemerintah Australia memperbarui peringatan perjalanan bagi warganya yang berada atau hendak bepergian ke Jepang menyusul gempa bumi bermagnitudo 6,8 di Prefektur Kumamoto pada Selasa lalu. Sebab, rentetan gempa susulan dilaporkan masih terus melanda kawasan tersebut hingga saat ini. Bencana ini merenggut sedikitnya 30 korban jiwa sebagaimana disampaikan oleh Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dilansir dari Detik Travel.
Pemerintah Prefektur Kumamoto mengonfirmasi sedikitnya 62 warga mengalami luka-luka di tengah situasi cuaca panas ekstrem.
Kerusakan fasilitas rumah dan jaringan listrik memaksa ribuan penduduk mengungsi ke pusat evakuasi guna menghindari suhu udara yang menyengat. Informasi dari Smartraveller yang dirilis Pemerintah Australia melalui pembaruan perjalanan pada Rabu mengimbau wisatawan untuk mematuhi arahan otoritas setempat.
"Jika Anda berada di wilayah terdampak, ikuti arahan otoritas setempat. Periksa informasi gempa bumi dan tsunami dari Badan Meteorologi Jepang serta ikuti panduan keselamatan gempa dari Organisasi Pariwisata Nasional Jepang," tulis Smartraveller. Lebih dari 100 gempa susulan telah tercatat, sementara tim penyelamat terus menyisir reruntuhan bangunan untuk mencari korban terjebak.
Sebanyak 170 personel penyelamat diterjunkan ke pusat perbelanjaan Aeon di Kota Kashima akibat lantai dua gedung tersebut ambruk. Dinas Pemadam Kebakaran Kumamoto menyatakan jumlah pasti warga yang terjebak di lokasi tersebut masih belum diketahui secara pasti. Dugaan ledakan akibat kebocoran gas sempat muncul sebelum runtuhnya bangunan, meski pihak Aeon memastikan seluruh pengunjung telah dievakuasi.
Kerusakan juga menimpa pabrik Yatsushiro milik Nippon Paper Industries, yang menyebabkan cerobong roboh dan beberapa pekerja sempat terjebak.
Tayangan NHK memperlihatkan sejumlah bangunan terbakar serta retakan besar di jalan utama yang memicu penghentian layanan kereta api dan penerbangan. Kerusakan dinding batu turut dialami Kastel Kumamoto yang sedang dalam proses restorasi pascagempa sebelumnya. Organisasi Pariwisata Nasional Jepang mencatat lebih dari satu juta warga Australia telah berkunjung ke Negeri Sakura sepanjang tahun 2025.
Selain risiko bencana gempa bumi, Smartraveller juga mengingatkan para pelancong mengenai bahaya gelombang panas pada periode Juli hingga September.
"Gelombang panas ekstrem dapat terjadi di Jepang antara Juli hingga September. Otoritas setempat akan mengeluarkan peringatan saat suhu diperkirakan sangat tinggi. Waspadai gejala dehidrasi dan heatstroke," jelas Smartraveller.