Abrasi Pantai Jembrana Kian Parah Mengancam Pura Rambut Siwi
Kondisi pesisir pantai di Bali kini semakin mengkhawatirkan akibat terjangan abrasi yang kian meluas. Salah satu dampak paling fatal terlihat di Jembrana, di mana kompleks suci Pura Rambut Siwi terancam runtuh setelah terkikis oleh gerusan ombak.
Seperti dikutip dari Detik Travel, situasi di kawasan Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali ini berada dalam kondisi memprihatinkan. Gempuran ombak yang terus-menerus terjadi merusak Pura Tirta Rambut Siwi hingga membuat beberapa struktur bangunan hancur.
Kerusakan paling parah terdeteksi tepat pada area di bawah Pura Dang Kahyangan Rambut Siwi. Struktur penting seperti tembok penyengker beserta Kori Pura Tirta saat ini sudah luluh lantak akibat tersapu ombak.
Selain fasilitas tersebut, bangunan Bale Pesandegan yang berada di area dalam pura juga dilaporkan telah jebol. Posisinya yang miring dan nyaris ambruk menimbulkan rasa waswas bagi masyarakat atau pemedek yang datang untuk melakukan persembahyangan.
"Abrasi sudah sangat parah, banyak bagian dari Pura Tirta sudah hancur. Ini terjadi sejak lama, harus segera mendapat penanganan biar tidak tambah parah," kata Mangku Widi.
Juru Sapuh Pura Tirta tersebut menyatakan bahwa jika tidak segera ada tindakan nyata, keberadaan pura suci ini terancam lenyap sepenuhnya. Ia menaruh harapan besar agar pihak pemerintah segera mengambil langkah responsif terhadap ancaman yang di depan mata.
"Saya dengar sih pemerintah kabupaten sudah mengusulkan penanganan abrasi ke pemerintah pusat. Mudah-mudahanlah segera bisa terealisasi," ujar Mangku Widi.
Kondisi darurat ini juga dibenarkan oleh Perbekel Yehembang Kangin, Gede Suardika. Pihak desa bersama pengempon pura telah meneruskan laporan ini kepada Pemerintah Daerah Jembrana serta mengajukan permohonan ke Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida.
"Kondisi kerusakan dan faktor penyebabnya sudah skala besar, sehingga penanganan yang efektif harus sesuai secara teknis. Jadi ini kewenangannya ada di BWS," kata Suardika.
Suardika menambahkan bahwa perwakilan dari BWS Bali Penida sebenarnya sudah sempat datang untuk memantau langsung dan melakukan survei. Kendati demikian, sampai saat ini belum terlihat adanya realisasi penanganan fisik di lokasi terdampak.
Sebelumnya, masyarakat bersama aparat gabungan dari pihak kecamatan, TNI/Polri, hingga pemerintah desa sempat mengupayakan tindakan darurat. Mereka bergotong royong menahan laju pengikisan pantai dengan membuat tanggul sementara.
"Kami sempat gotong royong bersama. Kami tambal (pesisir) dengan pasir yang ditaruh dalam kampil (karung). Namun, karena tingkat kerusakan dan faktor penyebabnya skala berat, maka giat tersebut tidak efektif," ujar Suardika.