Pemerintah Pastikan Harga BBM dan LPG Subsidi Tetap Stabil
Pemerintah Indonesia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG 3 kilogram bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026. Penegasan ini disampaikan di Jakarta pada Selasa (19/5/2026) merespons tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus level Rp17.700.
Kondisi keuangan negara dilaporkan masih berada dalam posisi aman untuk menopang beban subsidi energi nasional. Menurut data Refinitiv, mata uang rupiah melemah 0,51 persen ke posisi Rp17.730 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026) pukul 13.18 WIB, setelah sehari sebelumnya ditutup merosot ke level Rp17.640 per dolar AS.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan simulasi perhitungan risiko fiskal terhadap fluktuasi mata uang sejak awal tahun. Instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai masih cukup kuat untuk menjaga stabilitas harga energi bagi masyarakat.
"Anggaran udah kita hitung sebelumnya itu," ujarnya saat ditemui usai Rapat Koordinasi di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Pemerintah menjamin tidak ada kebijakan penyesuaian harga bensin maupun solar yang disubsidi dalam waktu dekat karena skenario anggaran telah mengantisipasi ketidakpastian pasar finansial global.
"Nggak (ada kenaikan harga)," jawab singkat Purbaya menanggapi pertanyaan soal potensi perubahan harga BBM subsidi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turut menambahkan bahwa akumulasi rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sejak Januari hingga sekarang masih berada di bawah ambang batas US$100 per barel.
"Saya dalam arahan Pak Presiden Prabowo telah merumuskan untuk ICP sampai US$ 100 (per barel) rata-rata dari Januari sampai sekarang. Kalau sampai sekarang kan naik turun, ada US$80, US$ 90, US$117, rata-rata (ICP) sekarang itu sekitar US$80-81 dari Januari-sekarang. Jadi belum US$100 (per barel) rata-rata dan belum ada kenaikan, insyaallah tidak akan naik (harga BBM subsidi)," kata Bahlil pada Selasa (19/5/2026).
Bahlil juga membantah isu mengenai rencana penghapusan subsidi BBM dan menegaskan ketersediaan pasokan serta pendanaan bantuan energi bagi masyarakat.
"Insya Allah (harga BBM subsidi tetap) sampai akhir tahun (2026). Tidak ada konsep pemerintah seperti itu (penghapusan BBM subsidi) ya. (Anggaran) cukup dong," tutupnya.
Sementara itu, Kementerian ESDM juga memastikan harga LPG 3 kilogram bersubsidi tidak mengalami perubahan akibat pelemahan kurs ini. Kebijakan impor LPG dan minyak dilaporkan tetap berjalan normal sesuai dengan mekanisme yang berlaku.
“Belum ada perubahan. Harga LPG subsidi tetap, enggak ada (perubahan),” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaeman ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Laode Sulaeman kembali menegaskan ketetapan ini mengacu pada pengumuman yang telah disampaikan sebelumnya oleh Menteri ESDM mengenai masa berlaku harga subsidi tersebut.
“Kan sudah diumumkan Pak Menteri. Sampai akhir tahun (tidak berubah),” kata Laode.
Dilansir dari ANTARA, analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen risk off global setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping tidak membuahkan solusi terkait konflik AS-Iran.
“Rupiah berpotensi kembali melemah merespons sentimen risk off global pada hari Jumat (15/5), dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off semua aset, termasuk obligasi, saham, crypto, dan mata uang oleh kekecewaan investor pada hasil pertemuan Xi dan Trump yang tidak banyak membahas atau memberikan solusi terhadap perang AS-Iran,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin (18/5/2026).