Penerimaan Pajak Semester I-2026 Capai Rp1.035,7 Triliun
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi penerimaan pajak Indonesia pada Semester I-2026 berhasil mencapai Rp1.035,7 triliun atau tumbuh sebesar 24,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian ini disampaikan dalam rapat bersama Badan Anggaran DPR RI pada Selasa (7/7/2026), sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.
Hasil tersebut setara dengan 43,9 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Pertumbuhan ini sekaligus membalikkan tren kontraksi yang sempat membayangi performa penerimaan negara pada periode sebelumnya.
Lonjakan setoran pajak didorong oleh stabilitas ekonomi domestik yang terjaga, efektivitas sistem Coretax, serta penguatan intensifikasi dan ekstensifikasi fiskal. Sektor Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPnBM mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 42,2 persen dengan realisasi Rp380 triliun.
Di samping itu, PPh Badan menyumbang Rp196,1 triliun setelah tumbuh 28,6 persen akibat membaiknya profitabilitas dunia usaha. Sektor perdagangan menjadi kontributor terbesar dengan porsi 25,6 persen, disusul oleh industri pengolahan yang memegang andil sebesar 22,8 persen.
"Ini tumbuh signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang saya bilang tadi negatif," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Pemerintah mengakui adanya sejumlah kekurangan teknis pada implementasi sistem perpajakan terpadu yang baru. Kendati demikian, pembaruan teknologi administrasi ini dinilai tetap memberikan kontribusi besar pada pos pendapatan negara.
"Jadi walaupun Coretax ada cacatnya, tapi dampaknya cukup signifikan juga untuk meningkatkan pendapatan perpajakan. Kita akan perbaiki terus kelemahan-kelemahan di Coretax supaya ke depan masyarakat semakin gampang menggunakan Coretax sehingga pajak naik lagi," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Aktivitas ekonomi digital dan pergerakan harga komoditas menjadi pemicu utama melesatnya sektor perdagangan hingga tumbuh 45,9 persen. Sementara itu, subsektor minyak kelapa sawit menyokong kinerja industri pengolahan, dan subsektor migas menjaga performa industri pertambangan.
"Pertumbuhan yang lebih merata ini menjadi indikasi bahwa basis penerimaan negara semakin kuat dan tidak hanya bergantung pada sektor tertentu," tutur Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.