BMKG Ungkap Penyebab Gelombang Panas Ekstrem di Eropa

Share

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan kombinasi fenomena Blok Omega dan dampak perubahan iklim memicu gelombang panas ekstrem di sejumlah negara Eropa pada Selasa (7/7/2026), dilansir dari Bloomberg Technoz.

Suhu di berbagai wilayah Benua Biru dilaporkan telah menembus lebih dari 40 derajat Celsius akibat sirkulasi atmosfer tersebut.

"Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa beberapa minggu belakangan ini dipicu oleh kombinasi fenomena meteorologi spesifik di atmosfer dan diperparah secara signifikan oleh perubahan iklim global," ujar Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG.

Pola sirkulasi atmosfer yang menyerupai huruf Yunani Omega ini membentuk sistem antisiklon bertekanan tinggi yang sangat kuat dan stabil dari Eropa Barat hingga Eropa Tengah. Kondisi tersebut diapit dua sistem tekanan rendah yang kemudian memicu kubah panas.

"Tekanan tinggi tersebut terus menekan udara panas ke bawah, memerangkapnya di permukaan bumi, dan mencegah terbentuknya awan maupun angin sejuk yang bisa menurunkan suhu. Proses ini dikenal sebagai pemanasan adiabatik," jelas Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG.

Sistem atmosfer yang bertahan lama ini juga menarik massa udara kering nan panas dari Gurun Sahara di Afrika Utara menuju Semenanjung Iberia, Prancis, Inggris, hingga Balkan. Faktor peningkatan emisi gas rumah kaca dinilai ikut memperparah cuaca ekstrem tersebut.

"Fenomena tekanan tinggi sebenarnya merupakan hal yang umum terjadi pada musim panas. Namun, pemanasan global telah meningkatkan suhu dasar atmosfer sehingga ketika pola cuaca seperti Blok Omega muncul, suhu yang dihasilkan menjadi jauh lebih ekstrem dibandingkan beberapa dekade lalu," kata Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG.

Eropa saat ini menjadi benua dengan laju pemanasan paling cepat di dunia. Hal ini meningkatkan kerentanan kawasan tersebut terhadap gelombang panas dengan intensitas serta durasi yang jauh lebih tinggi dibanding periode sebelumnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author