Konser Taylor Swift di Singapura Picu Aliran Dana Keluar Indonesia

Share

Penyelenggaraan konser musik internasional Taylor Swift di Singapura memicu kekhawatiran fenomena aliran dana modal keluar atau capital outflow dari Indonesia ke negara tetangga tersebut. Lonjakan perjalanan wisatawan nasional demi menghadiri acara hiburan ini turut memengaruhi perputaran ekonomi domestik, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Sabtu (4/7/2026).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya fakta menarik perihal tujuan negara wisatawan nasional pada Maret 2024. Porsi kunjungan terbesar mengalir ke Malaysia sebesar 29,95 persen, disusul Singapura sebesar 17,26 persen, dan Arab Saudi sebesar 16,99 persen.

Kenaikan jumlah kunjungan ke Singapura dipengaruhi secara signifikan oleh pergelaran konser musik. Secara kumulatif, total perjalanan hingga Maret 2024 menyentuh angka 2.185.806, mengalami pertumbuhan sebesar 15,75 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti mengonfirmasi lonjakan pergerakan ke luar negeri tersebut dalam sebuah jumpa pers pada Kamis (2/5/2024).

“Selanjutnya scara kumulatif, jumlah perjalanan hingga Maret 2024 mencapai 2.185.806 atau meningkat 15,75% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu,” kata Amalia Adininggar Widyasanti, Plt Kepala BPS.

Peningkatan proporsi kunjungan ke Singapura dan Arab Saudi tersebut didorong oleh faktor penyelenggaraan acara musik global serta ibadah keagamaan. Akumulasi dari porsi ketiga negara tujuan utama tersebut memberikan kontribusi mayoritas terhadap pergerakan wisatawan nasional.

“Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, proporsi ke Singapura dan Arab Saudi mengalami peningkatan masing-masing didorong antara lain penyelenggaraan konser musik internasional di Singapura dan Umrah yang ke Arab Saudi. Total proporsi tiga negara tersebut terhadap Wisna sebesar 64,2%,” tambah Amalia Adininggar Widyasanti, Plt Kepala BPS.

Presiden Joko Widodo memberikan perhatian khusus pada dampak perpindahan dana ini dalam acara Peresmian Peluncuran Digitalisasi Layanan Perizinan Penyelenggaraan Event pada Senin (24/6/2024). Indonesia dinilai kehilangan potensi perputaran uang dalam jumlah besar akibat pengeluaran warga negara di luar negeri.

"Apa yang terjadi kalau kita berbondong-bondong nontonnya di Singapura? Itu ada namanya capital outflow aliran uang dari Indonesia menuju ke Singapura, kita kehilangan. Kehilangan uang bukan hanya untuk tiket, tetapi kehilangan uang Indonesia [untuk] bayar hotel, bayar makan, transportasi, dan lain-lain," jelas Joko Widodo, Presiden Indonesia.

Konser yang berlangsung selama enam hari di Singapura pada Maret tersebut menjadikan negara itu sebagai satu-satunya penyelenggara di wilayah Asia Tenggara. Potensi penonton asal Indonesia diperkirakan sangat besar mengingat basis penggemar sang musisi di platform digital domestik mencapai jutaan orang.

"[Konser] Taylor Swift pada Maret diselenggarakan 6 hari di Singapura, dan Singapura adalah satu-satunya negara Asean yang menyelenggarakan itu. [Fans] yang menonton saya kira itu lebih dari separuh [masyarakat] Indonesia karena penggemar Taylor Swift kalau kita lihat di Spotify Indonesia 2,2 juta orang," tekan Joko Widodo, Presiden Indonesia.

Secara keseluruhan, durasi pertunjukan selama tiga jam setiap harinya berhasil menarik 360.000 penonton ke Singapura. Meski demikian, kepemimpinan logistik dan kecepatan birokrasi Singapura dalam mendatangkan musisi kelas dunia mendapat apresiasi tersendiri.

"Sekali lagi saya pastikan separuh dari yang nonton itu orang Indonesia," tegas Joko Widodo, Presiden Indonesia.

Faktor penentu keberhasilan tersebut terletak pada efisiensi layanan, jaminan keamanan, serta pemulihan akses yang disediakan oleh pihak otoritas setempat.

"Kenapa sih yang menyelenggarakan selalu Singapura? Ya karena kecepatan melayani dalam mendatangkan artis-artis ini. Dukungan pemerintah baik itu pemulihan akses, keamanan, dan lain-lainnya," ujar Joko Widodo, Presiden Indonesia.

Dampak ekonomi dari fenomena ini tidak hanya dirasakan di Asia, melainkan juga di wilayah Britania Raya saat tur berlangsung pada 7-9 Juni 2024. Berdasarkan data Bank of America, pengeluaran nasabah di Paris melonjak hingga 22 persen bertepatan dengan jadwal tur tersebut pada 9 hingga 12 Mei 2024.

President of Preferred Banking, Aron Levine memberikan analisis terkait tren pengeluaran konsumen yang didorong oleh kegiatan hiburan berskala besar ini.

"Tidak ada penjelasan lain," kata Aron Levine, President of Preferred Banking.

Lonjakan serupa diproyeksikan akan terjadi pada beberapa kota besar Eropa lainnya yang menjadi destinasi tur berikutnya, termasuk London, Milan, dan Wina.

“Dia akan memberikan dorongan pada perekonomian Eropa.” kata Aron Levine, President of Preferred Banking.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author