Bursa Saham Asia Bersiap Menguat Mengekor Reli Teknologi di Wall Street

Share

Bursa saham Asia bersiap mencatatkan penguatan pada perdagangan hari Rabu (1/7). Optimisme investor meningkat setelah Wall Street berhasil menutup kuartal terbaiknya dalam enam tahun terakhir. Lonjakan saham produsen cip dan indikasi ketahanan ekonomi Amerika Serikat menjadi pemicu utama.

Hal ini seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Kontrak berjangka indeks saham menunjukkan potensi penguatan di Jepang, Korea Selatan, dan Hong Kong. Sentimen positif ini mengekor reli sektor teknologi yang mendongkrak bursa AS semalam.

Indeks S&P 500 melesat 0,8 persen dan Nasdaq 100 melonjak 1,7 persen. Indikator saham sektor semikonduktor bahkan membukukan keuntungan kuartalan tertinggi sepanjang sejarah, sementara obligasi pemerintah AS bergerak turun.

Di sisi lain, harga minyak mentah merangkak naik tipis pada awal perdagangan di Asia. Pergerakan ini terjadi setelah sempat melemah pada hari Selasa berkat harapan bertahannya gencatan senjata antara AS dan Iran. Para investor tampaknya mulai mengabaikan ketegangan geopolitik yang masih tersisa. Rilis data terbaru AS memperkuat pandangan bahwa fundamental ekonomi negara itu tetap tangguh.

Stabilnya pengeluaran konsumen AS dan pasar tenaga kerja yang solid berhasil meredam kekhawatiran pasar. Tekanan dari lonjakan harga energi serta ketidakpastian perdagangan dinilai tidak akan menghentikan pertumbuhan. Hal ini sekaligus mendongkrak kepercayaan pasar bahwa korporasi bakal terus mencetak kinerja laba yang kuat.

"Pasar terbukti menjadi mesin penggiling yang tangguh karena terus melaju kuat. Padahal, sebelumnya banyak pihak yang cemas di tengah reli luar biasa ini, yang sempat dihantam aksi jual besar-besaran, perang Iran, dan sejumlah pengaruh eksternal lainnya," ujar JJ Kinahan dari Cboe Global Markets. Laporan ekonomi pada hari Selasa menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan di AS tidak banyak berubah pada bulan Mei.

Data ini mengindikasikan permintaan tenaga kerja yang tetap stabil. Sementara itu, indeks keyakinan konsumen merangkak naik pada bulan Juni. Penurunan harga bensin berhasil mengimbangi kecemasan pasar terkait ketersediaan lapangan kerja.

Di sisi lain, para pembuat kebijakan di bank sentral AS sepakat secara bulat untuk mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat bulan lalu. Momen tersebut menjadi rapat perdana di bawah kepemimpinan gubernur yang baru, Kevin Warsh.

Data ketenagakerjaan yang stabil ditambah dengan angka inflasi yang masih tinggi memicu ekspektasi pasar. Federal Reserve mungkin perlu menaikkan suku bunga akhir tahun ini guna meredam tekanan harga. Para pejabat dijadwalkan menggelar rapat kebijakan moneter berikutnya pada akhir Juli mendatang.

Gubernur Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, menyatakan dirinya melihat sedikit bukti bahwa tingkat suku bunga saat ini cukup ketat untuk menahan laju ekonomi. Ia menilai bank sentral kemungkinan besar perlu menaikkan biaya pinjaman demi mengembalikan inflasi ke target 2%.

Beralih ke Asia, merosotnya nilai tukar yen Jepang ke level terendah dalam empat dekade terakhir terhadap dolar AS membuat para pelaku pasar bersiap mengantisipasi ambang batas intervensi berikutnya dari Tokyo.

Setelah mata uang Jepang tersebut menembus level 162 per dolar pada hari Selasa, para analis strategi mulai menunjuk angka 163 ke atas sebagai titik kritis baru. Mereka menilai Kementerian Keuangan Jepang kemungkinan bakal lebih menoleransi pelemahan yen dibanding kebijakan mereka pada tahun 2024 lalu. Sementara itu, pembicaraan damai antara AS dan Iran dijadwalkan kembali bergulir di Qatar pada hari Selasa. Agenda ini berjalan setelah kedua belah pihak sepakat menghentikan aksi saling serang di Selat Hormuz.

Sejauh ini, pihak Iran belum mengonfirmasi rincian mengenai putaran negosiasi terbaru tersebut. Meski demikian, Republik Islam Iran berulang kali menegaskan tekadnya untuk tetap memegang kendali atas lalu lintas maritim di jalur pelayaran kritis tersebut. Sikap ini otomatis meningkatkan tensi dan taruhan menjelang perundingan di Doha.

"Meskipun laporan berkala mengenai ketegangan baru sempat memicu pergerakan jangka pendek di pasar energi, para investor sejaino ini tetap memperhitungkan skenario pembukaan kembali Selat Hormuz secara relatif tertib dan normalisasi bertahap pada arus minyak global," ungkap Daniela Hathorn, analis pasar senior di Capital.com.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author