Saham Unggulan Inggris Melemah Akibat Konflik Timur Tengah
Saham-saham unggulan di bursa London mengalami penurunan pada hari Kamis, 21 Mei 2026, setelah data ekonomi yang lemah dan ketidakpastian konflik Timur Tengah menekan sentimen investor.
Indeks acuan FTSE 100 merosot sebesar 0,43 persen pada jam 11:15 GMT, meskipun indeks saham berkapitalisasi menengah FTSE 250 berhasil menguat tipis 0,18 persen.
Sikap kehati-hatian pasar dipicu oleh laporan yang mengindikasikan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat masih belum terselesaikan setelah Pemimpin Agung Iran menginstruksikan agar uranium yang mendekati tingkat senjata milik negara tersebut tidak dikirim ke luar negeri.
Kondisi konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah telah mengerek harga minyak dunia dan meningkatkan kecemasan bahwa tekanan inflasi akan bertahan lebih lama dari perkiraan.
Kekhawatiran investor semakin diperparah oleh survei terbaru yang menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Inggris mengalami penurunan aktivitas paling luas dalam lebih dari satu tahun.
Paul Dales, kepala ekonom Inggris di Capital Economics, mengindikasikan bahwa data terbaru tersebut dapat menjadi tanda bahwa tekanan inflasi yang persisten belum sepenuhnya terbentuk kuat.
"These figures lend some tentative support to other evidence that suggests the conditions for a long period of high inflation are not in place," ujar Paul Dales sebagaimana dilansir dari laporan Reuters.
Sebelumnya, data resmi menunjukkan inflasi Inggris pada bulan April melandai dari perkiraan dan angka pengangguran sedikit meningkat, sementara data Confederation of British Industry mencatat pesanan pabrik pada Mei menyusut di laju tercepat sejak September 2020.
Penurunan tajam dipimpin oleh saham Auto Trader Group yang anjlok 9,1 persen akibat pertumbuhan penjualan yang melambat, disusul penurunan sektor peralatan dan layanan medis sebesar 2,7 persen akibat saham Convatec merosot 7,9 persen setelah memperingatkan adanya tekanan pada margin keuntungan.