Pasar SBN Mengawali Pekan dengan Sinyal Konstruktif
Pasar Surat Berharga Negara (SBN) mengawali pekan ini dengan sinyal yang cukup konstruktif, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Senin (29/6/2026). Di tengah ketidakpastian global akibat negosiasi Amerika Serikat (AS) dengan Iran hingga spekulasi arah kebijakan moneter Negeri Paman Sam, investor terlihat masih meminati obligasi pemerintah Indonesia. Minat tersebut tercermin dari penurunan imbal hasil (yield) di sebagian besar tenor, terutama tenor menengah hingga panjang.
Melansir data Bloomberg, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 5 tahun turun 3,9 basis poin (bps) menjadi 7,1%, sedangkan tenor 8 tahun mencatat penurunan paling tajam sebesar 5,3 bps ke level 7,11%.
Penurunan juga terjadi pada tenor 15 tahun sebesar 2,4 bps menjadi 7,26%, dan tenor 16 tahun sebesar 4,6 bps menjadi 7,3%. Sebaliknya, tenor acuan 10 tahun relatif tidak berubah di 7,15% yang menandakan pelaku pasar masih memilih menunggu katalis baru sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.
Namun, struktur imbal hasil obligasi Tanah Air masih cenderung datar, bahkan sedikit mengalami inversi di tenor pendek. Yield SUN tenor 1 tahun berada di 7,16%, sedikit lebih tinggi dari tenor acuan 10 tahun sebesar 7,15%.
Selisih sekitar 1,1 bps itu menggambarkan bahwa pasar sepertinya masih memandang risiko jangka pendek lebih tinggi daripada prospek jangka panjang. Investor memperkirakan siklus pengetatan moneter telah mendekati puncaknya dan tekanan inflasi akan semakin terkendali beberapa kuartal ke depan. Menurut Bloomberg Survey yang menghimpun proyeksi dari 20 ekonom dan analis, median proyeksi inflasi berada di 3,2%, naik dari posisi Mei yang sebesar 3,08%.
Sementara yield obligasi valas (INDON) tenor 10 tahun juga tercatat turun 0,9 bps ke 5,36%, disusul tenor 7 tahun turun 0,9 bps ke 5,06%.
Turunnya yield di pasar INDON mengindikasikan minat investor terhadap aset di Indonesia masih terjaga. Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, memperkirakan yield SUN tenor acuan 10 tahun berpeluang melanjutkan tren penurunan menuju kisaran 7,05%-7,15% pada perdagangan hari ini. Dia menyebut prospek tersebut didukung oleh rencana Kementerian Keuangan untuk kembali menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di sektor perbankan.
Langkah ini diperkirakan akan meningkatkan likuiditas di sistem keuangan.
Dengan kondisi itu, bank tak perlu bersaing terlalu agresif menawarkan bunga simpanan yang tinggi untuk menarik dana masyarakat. Kala sektor perbankan punya dana yang cukup, maka kebutuhan untuk menawarkan suku bunga simpanan yang tinggi ikut berkurang.
Hal ini mendorong investor mengalihkan dananya ke obligasi pemerintah, sehingga permintaan SBN ikut terkerek, dan yield cenderung menurun. Untuk diketahui, pekan lalu Kementerian Keuangan berencana meningkatkan penempatan dana pemerintah di bank-bank Himbara.
Meski Kementerian Keuangan belum merinci secara pasti, penempatan tersebut diperkirakan bertambah sekitar Rp75 triliun hingga Rp100 triliun dari alokasi sebelumnya, sehingga total dana yang ditempatkan berpotensi mencapai sekitar Rp300 triliun. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, langkah ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas di sektor perbankan dan memperkuat kapasitas intermediasi perbankan, dan memperkecil risiko perlambatan pertumbuhan kredit.