MAMI Memproyeksikan Pasar Obligasi Masih Rentan Fluktuasi

Share

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memproyeksikan pasar obligasi domestik pada tahun 2026 masih akan bergerak fluktuatif akibat pengaruh konflik geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut dinilai memicu sensitivitas pasar terhadap pergerakan yield Surat Berharga Negara (SBN), nilai tukar rupiah, serta prospek reksa dana pendapatan tetap.

Senior Portfolio Manager Fixed Income MAMI, Syuhada Arief, menjelaskan bahwa sentimen pasar obligasi saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran, termasuk situasi di Selat Hormuz. Pergerakan imbal hasil SBN tenor 10 tahun sempat menyentuh angka 6,5 persen pada awal April 2026 sebelum akhirnya melonjak kembali ke level 6,8 persen pada akhir bulan tersebut.

MAMI menilai kebijakan kenaikan suku bunga acuan belum menjadi skenario utama dari bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Sifat harga minyak yang tetap tinggi berpotensi membuat institusi tersebut bertindak lebih hati-hati sehingga ruang penurunan suku bunga global menjadi kian terbatas.

Selain faktor global, kondisi fiskal dalam negeri turut menjadi perhatian pelaku pasar karena pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga daya beli masyarakat atau mempertahankan stabilitas APBN. Kebijakan subsidi energi di satu sisi menopang konsumsi, namun di sisi lain berisiko memperlebar defisit anggaran fiskal.

Berdasarkan data realisasi APBN per Maret 2026, defisit anggaran Indonesia telah melebar ke angka 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar 0,43 persen. Setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS diproyeksikan dapat menambah beban defisit fiskal sekitar Rp6,8 triliun.

Bank Indonesia juga menghadapi tekanan berat dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya permintaan dolar AS. Hal ini terlihat dari kenaikan imbal hasil SRBI tenor 12 bulan dari 4,9 persen di awal tahun menjadi 6,5 persen pada Mei 2026, yang dibarengi penurunan cadangan devisa menjadi 146,2 miliar dolar AS per akhir April 2026.

Menyikapi volatilitas tersebut, MAMI menerapkan strategi portofolio dengan mengutamakan obligasi tenor pendek karena kurva imbal hasil saat ini relatif datar. Langkah ini diambil dengan melihat yield SBN tenor 5 tahun yang berada di kisaran 6,5 persen dan tenor 10 tahun di sekitar 6,6 persen.

Struktur Indikator Pasar dan Fiskal Mei 2026
Indikator Data/Pandangan
Yield SBN 10 Tahun Sempat turun 6,5%, lalu naik ke 6,8%
Outlook The Fed Cenderung menahan suku bunga
Harga Minyak Menjadi faktor utama sentimen pasar
Defisit APBN Maret 2026 0,93% terhadap PDB
Dampak Kenaikan Minyak US$1 minyak berpotensi tambah defisit Rp6,8 triliun
SRBI 12 Bulan Naik dari 4,9% menjadi 6,5%
Cadangan Devisa RI Turun ke US$146,2 miliar
Strategi MAMI Preferensi obligasi tenor pendek

MAMI menyatakan bahwa instrumen obligasi tetap memegang peran penting untuk diversifikasi karena memiliki tingkat stabilitas yang lebih baik saat pasar global mengalami guncangan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author