Lonjakan Harga Minyak Dunia Tekan Harga BBM Non-Subsidi
Gejolak pasar energi global memicu penyesuaian harga bahan bakar minyak non-subsidi di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum di Indonesia sepanjang Mei 2026. Langkah ini diambil badan usaha penyalur bbm menyusul lonjakan harga minyak mentah dunia yang bertahan di atas level 100 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak global yang dibarengi pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati Rp17.700 per dolar AS memberikan tekanan ganda terhadap pasokan bbm nasional. Meski demikian, PT Pertamina (Persero) terpantau masih menahan harga bbm non-subsidi jenis bensin seperti Pertamax di angka Rp12.300 per liter untuk wilayah Jawa dan Bali.
Di sisi lain, produk diesel non-subsidi mengalami lonjakan signifikan di mana Dexlite menyentuh Rp26.000 per liter dan Pertamina Dex menjadi Rp27.900 per liter di wilayah Jawa. Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak jenis Brent bertengger di level 109,15 dolar AS per barel, sedangkan jenis West Texas Intermediate berada di posisi 107,28 dolar AS per barel.
Situasi pergerakan harga komoditas global yang melambung tinggi ini mendapat perhatian serius dari sejumlah pengamat ekonomi nasional karena telah melampaui asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
"Terima kasih sudah menanti. Shell V-Power Diesel mulai tersedia kembali secara bertahap di SPBU Shell," tulis Shell dalam akun Instagram resminya.
Peneliti Center of Economic and Law Studies, Nailul Huda mengingatkan pemerintah agar cermat menghitung dampak lanjutan dari lonjakan harga energi internasional tersebut terhadap anggaran negara.
"Kenaikan harga minyak global akan menambah beban subsidi BBM dalam APBN. Namun, jika ada kenaikan harga BBM bersubsidi maka dipastikan akan ada dorongan combo dari kenaikan BBM dan juga imported inflation," kata Nailul Huda.
Nailul menambahkan bahwa kegagalan mengantisipasi pergerakan harga ini berisiko menekan daya beli masyarakat. Ia melihat opsi penyesuaian pada sektor non-subsidi lebih aman dilakukan dengan pengawasan ketat distribusi di lapangan.
"Silakan menaikkan harga BBM non-subsidi, namun pemerintah harus cermat menghitung potensi shifting (migrasi) konsumsi dari BBM non-subsidi ke subsidi agar tidak terjadi kelangkaan atau crash di lapangan," tegas Nailul Huda.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia, Mohammad Faisal menilai kebijakan mempertahankan harga bbm subsidi sudah tepat untuk menjaga stabilitas konsumsi domestik.
"Untuk non-subsidi sebenarnya bisa dilepaskan ke harga pasar untuk mengurangi beban keuangan Pertamina. Cuma saran saya, penyesuaian harganya harus dilakukan secara bertahap, karena bagaimanapun tetap akan ada dampaknya terhadap pengeluaran masyarakat kelas menengah, khususnya pengguna Pertamax," jelas Mohammad Faisal.
| Jenis BBM | RON/CN | Harga per Liter |
|---|---|---|
| Pertalite | RON 90 | Rp10.000 |
| Biosolar | CN 48 | Rp6.800 |
| Pertamax | RON 92 | Rp12.300 |
| Pertamax Green 95 | RON 95 | Rp12.900 |
| Pertamax Turbo | RON 98 | Rp19.900 |
| Dexlite | CN 51 | Rp26.000 |
| Pertamina Dex | CN 53 | Rp27.900 |
| Jenis BBM | Harga per Liter |
|---|---|
| Pertalite | Rp10.000 |
| Biosolar | Rp6.800 |
| Pertamax | Rp12.600 |
| Pertamax Turbo | Rp20.350 |
| Dexlite | Rp26.600 |
| Pertamina Dex | Rp28.500 |
Di jaringan penyalur swasta seperti BP, produk bbm bensin jenis BP 92 dipatok Rp12.390 per liter dan BP Ultimate seharga Rp12.930 per liter. Sementara itu, SPBU Vivo menjual Revvo 92 dengan harga Rp12.390 per liter dan Diesel Primus senilai Rp30.890 per liter.