Mengenal Tyromancy Metode Ramal Nasib Menggunakan Media Keju
Sebagian besar orang menganggap keju sebagai bahan makanan yang lezat. Namun, bagi seorang wanita asal Chicago bernama Jen Billock, makanan ini menjadi media untuk membaca masa depan. Jen Billock mendapatkan julukan Penyihir Keju karena kemampuannya memprediksi nasib seseorang.
Ia memanfaatkan bentuk serta tekstur pada sepotong keju sebagai petunjuk. Praktik yang disebut tyromancy ini mulai ditekuni Jen Billock saat pandemi Covid-19 melanda. Ketika itu, aktivitasnya sebagai seorang penulis mengalami hambatan, seperti dikutip dari Wolipop.
"Saya mencari cara-cara aneh meramal lewat makanan, lalu menemukan keju. Dari situlah semuanya dimulai," ujarnya, seperti dikutip dari New York Post.
Sebelum mendalami tyromancy, ia sudah memiliki dasar keahlian dalam membaca kartu tarot. Teknik penafsiran simbol pada tarot tersebut kemudian ia terapkan pada seni membaca keju. Tyromancy sendiri merupakan tradisi ramalan kuno yang tercatat sudah ada sejak abad ke-2. Metode ini juga sempat populer di wilayah Inggris pada masa Abad Pertengahan.
Jen Billock menjelaskan bahwa prinsip membaca keju memiliki kemiripan dengan metode membaca ampas kopi atau daun teh. Pola, lubang, hingga tekstur keju dianalisis untuk melihat pesan tentang cinta, karier, kesehatan, dan kehidupan pribadi. "Saya fokus pada kejunya, lalu pesan-pesan itu mulai muncul. Saya hanya menyampaikan apa yang saya dengar," katanya.
Pada setiap sesi ramalan, klien diminta untuk mengambil empat buah potongan keju. Tiga potongan pertama merepresentasikan fase masa lalu, masa kini, serta masa depan klien. Sementara itu, potongan keju yang keempat berfungsi khusus untuk menjawab pertanyaan tertentu dari klien.
Jen Billock meyakini ada keterikatan emosional antara keju yang dipilih dengan orang yang memilihnya. "Keju hanyalah kendaraan. Ia menjadi penghubung antara saya dan orang yang sedang saya baca," jelas Billock.
Selain keju, ia mengaku mampu membaca media makanan atau minuman lain, seperti croissant, salad, hingga kari. Baginya, makanan menyimpan ikatan emosional yang kuat dengan manusia sehingga efektif menjadi sarana refleksi.
Meski kerap menerima pandangan skeptis dan dianggap sekadar membuat sensasi, Jen Billock tidak ambil pusing. Ia tetap santai menghadapi kritik tersebut. "Hal terburuk yang mungkin terjadi adalah Anda belajar sesuatu, lalu makan kejunya.
Jadi sebenarnya tidak ada ruginya," katanya. Walaupun sering membaca nasib orang lain menggunakan keju, Jen Billock justru tidak pernah menerapkan ramalan itu untuk dirinya sendiri. Ia memilih untuk langsung menikmati keju tanpa mencari tahu pesan tersembunyi di dalamnya.