Pelemahan Rupiah Memicu Lonjakan Harga Suku Cadang Sepeda Motor
Nilai tukar mata uang rupiah yang melemah terhadap dolar AS memicu kelangkaan stabilitas harga berupa lonjakan besar-besaran pada banderol suku cadang sepeda motor di Indonesia. Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa (9/6), penyesuaian harga ini bahkan sudah diterapkan oleh sejumlah bengkel umum sejak bulan lalu.
Kondisi pasar otomotif terpukul setelah nilai tukar mata uang Amerika Serikat tersebut menembus angka Rp 18 ribuan. Kenaikan kurs ini berdampak langsung pada biaya operasional karena berbagai material dan bahan baku suku cadang masih didatangkan melalui jalur impor.
Penurunan volume konsumen kini dirasakan langsung oleh pelaku usaha perbengkelan akibat lonjakan harga barang tersebut. Dilansir dari Detik Oto, salah satu pengelola bengkel Putra Prima Motor di kawasan Bekasi, Jawa Barat, menyatakan bahwa tingkat kunjungan harian pelanggan saat ini merosot dibandingkan periode bulan-bulan sebelumnya.
"Iya ada (dampak penurunan pengunjung sejak harga sukucadang naik). Rata-rata (harga oli) udah naik Rp 20 ribuan," ujar kasir Putra Prima Motor.
Pihak manajemen menjelaskan bahwa fluktuasi harga tidak hanya melanda komoditas pelumas mesin, melainkan juga merembet ke komponen vital lainnya. Komoditas ban sepeda motor tercatat mengalami lonjakan harga yang signifikan hingga menyentuh angka puluhan persen pada bulan Mei lalu.
"Iya (selain oli) naik semua, hampir semua (suku cadang). Ban apalagi, pas bulan Mei tuh, ban bisa naik sampai 20 persen," tutur kasir Putra Prima Motor.
Pihak internal bengkel mengaku belum dapat memprediksi regulasi harga untuk periode bulan depan secara pasti. Kendati demikian, pencatatan nota penjualan menunjukkan bahwa grafik pergerakan harga sejumlah merek pelumas matik impor masih terus merangkak naik.
"Bulan depan belum tahu ya (naik berapa lagi). Itu oli yang MPX matik aja sampai kemarin masih naik aja, Shell juga tuh (naik terus)," kata kasir Putra Prima Motor.