Bank Indonesia Pastikan Inflasi Terkendali di Tengah Tekanan Eksternal
21 May 2026 12:50
Bloomberg Technoz, Jakarta – Bank Indonesia (BI) memastikan inflasi dalam negeri masih terkendali meski ada tekanan inflasi dari faktor eksternal atau imported inflation.
Risiko ini sebelumnya menjadi sorotan di tengah pelemahan mata uang rupiah dan negara berkembang lainnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS), serta lonjakan harga komoditas akibat konflik geopolitik.
Anggota Dewan Gubernur BI, Aida S. Budiman menjelaskan, ada dua faktor utama yang perlu diperhatikan ketika membahas potensi imported inflation. Pertama adalah dampak pelemahan nilai tukar terhadap harga barang domestik atau dikenal sebagai exchange rate pass-through. Kedua ialah kenaikan harga komoditas global.
"Kalau hitungan-hitungannya disebut dengan exchange rate pass-through. Tetapi karena kita sudah melakukan proses pendalaman pasar uang, kemudian juga transaksi hedging yang tersedia, dan terlebih lagi tentang komitmen kebijakan BI dalam menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah, maka angka dari exchange rate pass-through ini dari pengamatan kami semakin lama, semakin kecil," ujar Aida dalam konferensi pers, dikutip Kamis (21/5/2026).
Imported inflation merupakan inflasi yang berasal dari luar negeri dan masuk ke dalam perekonomian domestik. Kondisi ini biasanya terjadi ketika pelemahan nilai tukar membuat harga barang impor menjadi lebih mahal, terutama bahan baku industri, energi, maupun pangan yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Baca Juga
Ketika biaya impor naik, pelaku usaha menghadapi peningkatan ongkos produksi. Dampaknya, kenaikan biaya tersebut dapat diteruskan ke harga barang dan jasa di tingkat konsumen.
Aida memandang, dampak pelemahan rupiah terhadap inflasi kini semakin berkurang. Salah satunya karena tersedianya instrumen lindung nilai (hedging) sehingga pelaku usaha dapat mengurangi risiko fluktuasi kurs.
Perhatian BI, kata dia, saat ini justru lebih tertuju pada risiko kenaikan harga komoditas global akibat ketegangan geopolitik dan gangguan rantai pasok ssbagu imbas dari perang Timur Tengah yang terjadi sejak awal Maret lalu, yang turut membuat penutupan Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi dunia.
Hal ini telah mendorong kenaikan berbagai harga komoditas dunia. "Harga minyak sebagai contoh, Brent pada awal minggu ini secara year-to-date sudah mencapai US$93 per barel," ujar Aida.
Tak hanya minyak, harga komoditas lain seperti LNG, batu bara, CPO, nikel, hingga komoditas substitusi lainnya juga mengalami kenaikan.
Menurut BI, situasi ini berpotensi memicu kenaikan biaya energi dan harga sejumlah barang. Meski demikian, BI menilai dampaknya terhadap inflasi nasional masih terbatas.
"Yang sudah jelas adalah sekarang ini kita menghadapi kenaikan BBM non-subsidi dan avtur, ini mengakibatkan kenaikan di administered prices, tetapi untuk harga-harga inflasi lainnya, seperti dari inti, volatile food, ini masih terus terjaga," tegas dia.
BI, kata dia, tetap memperkirakan inflasi selama 2026-2027 masih terjaga pada sasarannya 2,5% plus minus 1%.