Gempa Magnitudo 7,8 Guncang Filipina Selatan Tewaskan 15 Warga
Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,8 mengguncang wilayah pulau bagian selatan Filipina pada Senin, 8 Juni 2026 pukul 16.00 waktu setempat, yang mengakibatkan sedikitnya 15 orang meninggal dunia dan puluhan ribu warga mengungsi akibat kerusakan infrastruktur parah.
Bencana alam terdahsyat dalam lima dekade terakhir ini dilaporkan melanda Pulau Mindanao dan wilayah sekitarnya. Dilansir dari Bloombergtechnoz, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat getaran ini menjadi yang paling kuat di Filipina sejak 1976 sekaligus yang terbesar di dunia sepanjang tahun ini.
Dewan manajemen bencana setempat melaporkan korban tewas teridentifikasi akibat serangan jantung dan tertimpa reruntuhan bangunan di Provinsi Cotabato Selatan. Dampak gempa juga memicu pengungsian sekitar 70.000 warga serta menyebabkan lebih dari seratus orang luka-luka.
Kerusakan infrastruktur dilaporkan terjadi di Kota General Santos, termasuk runtuhnya sebagian struktur bangunan dan kerusakan signifikan pada sebuah pusat perbelanjaan. Saluran listrik dan jaringan komunikasi di beberapa titik wilayah Mindanao terputus total.
Pusat Peringatan Tsunami Pasifik sempat mengeluarkan peringatan dini risiko tsunami untuk wilayah Indonesia, Filipina, Palau, Taiwan, dan Papua Nugini sebelum akhirnya mencabut status tersebut.
"Ancaman tsunami dari gempa bumi ini sekarang telah berlalu," ungkap Pusat Peringatan Tsunami Pasifik.
Respons darurat langsung diinstruksikan oleh Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. kepada seluruh instansi pemerintah terkait. Pemerintah juga meliburkan aktivitas sekolah di seluruh wilayah terdampak di Mindanao hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Langkah evakuasi darurat segera dilakukan oleh pemerintah daerah karena insiden terjadi bertepatan dengan hari pertama tahun ajaran baru sekolah. Sebuah rumah sakit setempat bahkan harus memindahkan para pasien ke area jalanan.
“Kami telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah di komunitas pesisir untuk melakukan evakuasi darurat,” ujar Kepala Kantor Penanggulangan Bencana Provinsi Sarangani, Rene Punzalan.
Punzalan menambahkan bahwa wilayahnya mengalami kelumpuhan total pasokan listrik dan gangguan jaringan komunikasi akibat besarnya kekuatan gempa.
“Rasanya seperti diayun dalam sebuah buaian,” katanya.
Badan geosains lain, seperti Pusat Penelitian Geosains GFZ Helmholtz Jerman, merilis estimasi berbeda yang mencatat gempa tersebut berkekuatan magnitudo 8,1 dengan kedalaman 10 kilometer.
Dampak guncangan di area pesisir juga dikonfirmasi oleh pengelola penginapan setempat yang terpaksa memindahkan seluruh pengunjung keluar dari bangunan.
“Iya, seluruh tamu telah dievakuasi,” kata Van Ruiz, seorang staf resor pantai di Teluk Sarangani.
Aktivitas pemerintahan di Kota Davao dan wilayah terdampak lain dihentikan sementara. Otoritas penerbangan sipil Filipina ikut menangguhkan operasional Bandara General Santos yang berakibat pada pembatalan 17 penerbangan.
“Saya bahkan tidak bisa berdiri karena guncangannya sangat kuat,” kata Tomas Alon, warga Kota General Santos.
Guncangan hebat tersebut membuat kepanikan luas di pemukiman warga perkotaan.
“Semua barang di rumah saya berjatuhan,” katanya.
Filipina secara geografis berada di kawasan Cincin Api Pasifik yang merupakan jalur sesar aktif di dunia, sehingga negara ini secara historis sangat rentan terhadap bencana gempa bumi dan letusan gunung api.