Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas Serangan Rudal Iran ke Israel

Share

Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke arah Israel pada Senin, 8 Juni 2026. Aksi militer tersebut mengancam kesepakatan gencatan senjata yang rapuh serta memicu penutupan total pada jalur logistik maritim vital di Selat Hormuz.

Lonjakan komoditas energi ini melesat di tengah kebuntuan proses negosiasi damai di kawasan Timur Tengah. Dilansir dari Bloombergtechnoz, harga minyak jenis Brent sempat meningkat hingga 3,6 persen ke posisi US$96,47 per barel, sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak mendekati US$94 per barel sebelum terkoreksi tipis.

Seorang penasihat militer Iran menyampaikan pernyataan resmi kepada kantor berita semi-pemerintah Iranian Students' News Agency (ISNA) terkait motif dari operasi militer tersebut.

"menghentikan tindakan bermusuhan mereka" kata penasihat militer Iran.

Pihak militer Israel di sisi lain mengeklaim telah berhasil meredam dampak serangan dengan mencegat seluruh rudal yang datang dan melaporkan tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. Eskalasi ini memperburuk hambatan distribusi minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair (LNG) ke pasar global.

Kondisi keamanan di jalur pelayaran internasional tersebut turut memicu kekhawatiran dari para pengamat industri energi global mengenai dampak jangka panjangnya.

"Eskalasi antara Israel dan Iran akhir pekan ini kembali memperlihatkan kepada kita betapa rapuhnya gencatan senjata yang ada," kata Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates.

Ia menambahkan bahwa memanasnya situasi politik ini dapat memperpanjang gangguan logistik di kawasan strategis tersebut.

"Meningkatnya permusuhan ini memperbesar risiko geopolitik bahwa Selat Hormuz bisa ditutup lebih lama dari perkiraan. Situasi ini juga memperbesar peluang Iran untuk mengambil langkah tambahan dalam membatasi jalur pelayaran di Laut Merah." kata Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates.

Sebelum rentetan rudal dilepaskan, Komando Sentral AS (Centcom) pada hari Minggu telah menembak jatuh dua drone tempur Iran di Selat Hormuz. Langkah penindakan tersebut menyusul serangan enam rudal balistik ke arah Bahrain dan Kuwait pada hari Jumat yang direspons AS dengan menggempur situs radar pengawas pantai Iran.

Hambatan menuju kesepakatan damai kian rumit karena Iran menuntut gencatan senjata paralel antara Israel dan Lebanon terlaksana terlebih dahulu sebelum kesepakatan diputuskan. Terkait posisi negosiasi ini, seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei memberikan tanggapan kepada CNN.

"bola kini berada di tangan Trump." kata penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei.

Meskipun Israel dan Lebanon sempat menyepakati gencatan senjata pada pekan lalu yang bergantung pada penghentian aksi permusuhan Hizbullah, kelompok milisi tersebut menolak kesepakatan itu sehingga pertempuran terus berlanjut sepanjang akhir pekan. Pemulihan pasokan minyak diprediksi tetap memakan waktu lama karena diperlukan pembersihan ranjau di Selat Hormuz serta perbaikan infrastruktur yang rusak.

Di sisi lain, kelompok OPEC+ sebenarnya telah menyepakati peningkatan kuota produksi minyak untuk bulan Juli sebesar 188.000 barel per hari. Namun, adanya hambatan ekspor dari kawasan Teluk Persia membuat mayoritas negara anggota belum mampu merealisasikan target penambahan volume produksi tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author