Teknologi Iron Tracking AI Mempermudah Skrining Anemia Tanpa Ambil Darah
Persoalan gizi berupa anemia hingga kini masih menjadi tantangan kesehatan yang belum terselesaikan di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Dilansir dari Detik Health, World Health Organization (WHO) mencatat sekitar 11 juta anak balita di Asia Tenggara menderita anemia akibat kekurangan zat besi. Kondisi di Indonesia juga menunjukkan bahwa sekitar satu dari empat anak mengalami anemia, yang menegaskan besarnya tantangan defisiensi zat besi ini.
Anemia defisiensi zat besi memicu kekurangan hemoglobin untuk mengedarkan oksigen, sehingga anak cepat lelah dan tumbuh kembangnya terganggu dalam jangka panjang.
Masalah utamanya adalah banyak kasus yang tidak terdeteksi sejak awal, sehingga penanganan baru dilakukan setelah gejala klinisnya muncul. "Kalau kita tidak mengetahui bahwa seorang anak berisiko mengalami kekurangan zat besi, kita tidak akan bisa mengatasinya. Karena itu, langkah pertama adalah meningkatkan kesadaran dan mempermudah deteksi sejak dini," ujar Bruno dalam sesi diskusi di Jakarta Selatan, Senin (6/7/2026).
Pemanfaatan artificial intelligence (AI) kini mulai diterapkan untuk mempermudah deteksi dini risiko kekurangan zat besi melalui teknologi Iron-Tracking. Teknologi Iron Tracking ini mengandalkan kamera smartphone untuk memindai iris mata pasien sebagai metode pemeriksaan awal yang praktis.
Algoritma AI kemudian menganalisis hasil pemindaian mata tersebut untuk mendeteksi indikasi anemia defisiensi besi tanpa proses laboratorium. Metode non-invasif ini berjalan tanpa penyuntikan jarum maupun pengambilan sampel darah, sehingga lebih nyaman bagi masyarakat luas. "Ke depan, kami melihat teknologi dapat membantu proses skrining anemia menjadi lebih mudah. Dengan memanfaatkan smartphone, pemeriksaan awal bisa dilakukan secara non invasif sehingga lebih banyak masyarakat dapat menjangkaunya," kata Bruno.
Penerapan teknologi digital ini diharapkan mampu memperluas jangkauan skrining anak-anak yang berisiko di wilayah dengan akses medis terbatas.
Melalui deteksi awal yang lebih cepat, intervensi pemenuhan gizi maupun penanganan medis lanjutan dapat segera diberikan kepada anak.