Studi Ungkap Dad Jokes Ayah Bantu Latih Ketahanan Mental Anak
Candaan receh atau dad jokes yang dilontarkan oleh seorang ayah sering kali membuat anak menggelengkan kepala karena terasa garing. Namun, kebiasaan ini ternyata menyimpan manfaat positif bagi tumbuh kembang anak.
Dilansir dari HaiBunda, penelitian yang dipimpin oleh Marc Hye-Knudsen dari Aarhus University menemukan bahwa lelucon ayah dapat membantu anak-anak membangun ketahanan emosional terhadap rasa malu. Hal ini dipublikasikan melalui laporan Deseret News.
Marc Hye-Knudsen menjelaskan bahwa dad jokes menjadi instrumen pengajaran yang sangat relevan untuk era modern. Melalui humor yang dinilai memalukan ini, anak-anak dapat melatih toleransi yang lebih tinggi terhadap rasa malu sehingga membentuk kepribadian yang lebih kuat.
Dalam lanskap budaya Barat kontemporer yang mengedepankan individualisme, kemampuan menoleransi rasa malu jangka pendek menjadi sebuah keuntungan tersendiri. Karakter ini membantu individu mempertahankan jati diri yang autentik di tengah tekanan sosial luar.
Para ayah tercatat lebih intens menggunakan dad jokes dalam berinteraksi dengan anak dibandingkan para ibu. Marc Hye-Knudsen menyebutkan terdapat faktor psikologis dan kultural yang melandasi perbedaan gaya humor tersebut.
"Sifat laki-laki yang lebih agresif dan tegas dibandingkan perempuan dapat mendorong mereka untuk lebih agresif dan suka menggoda dalam permainan dan humor dengan anak-anak," ungkap Hye-Knudsen yang dilansir British Psychological Society.
"Sementara sifat perempuan yang lebih mudah bergaul dan cemas dapat menghambat mereka dalam hal ini karena takut secara tidak sengaja menyakiti anak-anak secara fisik atau emosional, sehingga menghasilkan gaya bermain dan humor yang berbeda," sambungnya.
Dampak Keterlibatan Ayah bagi Kesehatan Keluarga
Sebagian besar ayah kerap melontarkan dad jokes secara spontan didorong oleh karakter bawaan untuk menggoda buah hati mereka. Interaksi humoris ini terbukti efektif mempererat ikatan emosional antara ayah dan anak.
"Jadi, untuk semua ayah di luar sana yang suka menceritakan dad jokes kepada anak-anaknya, jangan biarkan erangan atau kejengkelan anak-anak yang nyata menghentikan kita," ujar Hye-Knudsen.
"Kita sedang berpartisipasi dalam tradisi yang panjang dan membanggakan, dan lelucon kita yang dianggap sangat buruk dan memalukan bahkan mungkin bermanfaat bagi mereka. Terus ulangi permainan kata-kata usang yang sama, tahun demi tahun," lanjutnya.
Data dari Institute for Family Studies menunjukkan kehadiran aktif seorang ayah memberikan kontribusi besar pada kesejahteraan emosional seluruh anggota keluarga, termasuk meringankan beban psikologis ibu. Riset dalam Journal of Pediatric Psychology tahun 2005 juga menegaskan keterlibatan ayah berkorelasi langsung pada peningkatan kesehatan fisik serta performa akademis anak.