Siswa SD di Enrekang Gelantungan di Atap Bangunan Sekolah Kayu
Aksi sejumlah murid SDN 188 Nating, Kecamatan Bungin, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, yang bergelantungan di rangka atap ruang kelas kayu papan menjadi viral setelah diunggah oleh sang guru, Afrizal Adi Prayoga, Jumat (14/8/2026).
Video unggahan guru peserta program Pijar Yayasan CT Arsa Foundation tersebut mendapat perhatian luas di media sosial Instagram hingga ditonton puluhan juta kali. Seperti dilansir dari Detikcom, para siswa memanfaatkan struktur atap kayu kelas untuk melatih ketangkasan fisik mereka.
Pengajar di sekolah terpencil kawasan kaki Gunung Latimojong itu membagikan alasan anak-anak melakukan aksi unik tersebut saat ruang kelas sedang kosong.
"Iya, betul, itu video saya. Terkait video 'Ninja Warrior', emang anak-anak di sini sangat aktif dan menyalurkan keaktifannya di situ," kata Afri kepada detikEdu saat dikonfirmasi, Jumat (14/8/2026).
Afri menjelaskan bahwa ia merekam kejadian tersebut tanpa sengaja ketika baru kembali dari ruang kelas sebelah.
"Kronologinya itu karena ditinggal ke kelas sebelah, jadi pas saya masuk sudah pada gelantungan dan ada yang baru manjat. Jadi langsung saya abadikan momennya, karena hal baru bagi saya, banyak sekali sebenarnya tingkah anak-anak di sini karena sangat aktif dan semangat bersekolah," tambahnya.
Para murid segera diminta turun setelah video diambil untuk menjaga keamanan mereka. Suhu udara di wilayah dataran tinggi tersebut cukup dingin, yaitu mencapai 11°C pada pagi hari, sehingga mendorong warga dan anak-anak aktif bergerak.
"Memang harus gerak terus, apalagi kami berada di daerah dingin ya. Suhu di sini kalau pagi 11°C, jadi mungkin aktivitas gerak lebih diperlukan. Begitu juga orang dewasanya, semuanya suka olahraga di sini, apalagi voli dan sepak takraw," tutur Afri.
Fasilitas pendidikan di lokasi tersebut masih sangat minim dengan beberapa ruang kelas yang memanfaatkan material kayu papan sederhana.
"Kondisi sekolahnya seperti dalam video: masih ada 3 kelas bangunan kayu papan dan 1 perpustakaan kayu. Ada 3 kelas permanen yang mendapat bantuan revitalisasi dari Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) sekolah dan juga toilet," ungkapnya.
Ia juga menyinggung kondisi tiga ruang kelas lain yang baru saja mendapat renovasi.
"Namun, ada juga kelas yang sudah permanen sebanyak 3, baru-baru ini mendapatkan revitalisasi pembangunan sekolah," tambahnya.
Perjuangan murid untuk sampai ke sekolah sangat menantang, termasuk siswa dari Dusun Katabi yang merupakan kawasan ujung pendakian gunung.
"Menurut saya, itu perjuangan yang sangat berarti untuk mereka berangkat sekolah setiap hari," kata guru asal Sukoharjo, Jawa Tengah tersebut.
Akses menuju sekolah semakin berat saat cuaca buruk karena jalanan berupa tanah menanjak yang berbukit.
"Masih susah dijangkau (wilayah ini) apalagi kalau musim penghujan," lanjutnya.
Program Pijar yang digagas yayasan tempatnya bernaung menempatkan guru muda ke puluhan titik terpencil di seluruh wilayah Indonesia selama satu tahun.
"Aku juga mau ngucapin banyak terima kasih kepada program Pijar ini yang membuat saya banyak belajar di sini. Terima kasih, terkhusus untuk Ibu Anita Ratnasari Tanjung, Founder CT Arsa Foundation, yang sudah peduli dengan pendidikan anak-anak di pelosok Indonesia," ungkapnya.
Afri berharap keterlibatan para guru muda di daerah terpencil dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi kualitas pendidikan di pelosok negeri.
"Sebagai anak muda yang belum berkarier apa-apa, saya sangat senang sekali bisa menjadi bagian dari program hebat ini. Program ini tidak hanya membantu sekolah-sekolah terpencil, tetapi juga bisa memutus mata rantai kemiskinan. (Ini) tuh serasa mantra buat saya dan saya bangga menjadi salah satu anak muda yang ikut berkontribusi untuk menjadikan pendidikan Indonesia lebih baik. Saya harap program Pijar selalu menjadi lilin-lilin kehidupan di daerah terpencil. Dan semoga semua guru muda yang terlibat bisa menjadi penerang dalam gulita," pungkasnya.