UT Perluas Akses Pendidikan Tinggi Melalui 45 Guru Besar dan Beasiswa
Universitas Terbuka (UT) menegaskan komitmennya memperluas jangkauan perguruan tinggi dalam momentum HUT ke-81 Republik Indonesia. Langkah ini diambil untuk menjawab persoalan keterbatasan akses pendidikan akibat kendala geografis, waktu, dan pekerjaan.
Dikutip dari Detikcom, sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan UT mencatat 768.248 mahasiswa terdaftar pada semester ganjil 2025. Data tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat akan fleksibilitas perkuliahan.
Profil mahasiswa UT mencakup berbagai kalangan, seperti pekerja, guru, ASN, hingga warga Indonesia di luar negeri. Sebanyak 60,72 persen mahasiswa berusia di bawah 25 tahun, dan 79,9 persen di antaranya menempuh pendidikan sambil bekerja.
Sekretaris Universitas Terbuka, Dr. Kurnia Endah Riana, S.E., M.Com., menjelaskan pentingnya pemerataan literasi untuk mendukung kemandirian bangsa.
"Peningkatan kesejahteraan berkaitan erat dengan tingkat literasi dan kualitas sumber daya manusia. UT ingin menjangkau masyarakat yang selama ini belum terlayani perguruan tinggi negeri maupun swasta agar mereka memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi," ujar Kurnia Endah Riana dalam keterangan tertulis, Selasa (18/8/2026).
Selain pembelajaran jarak jauh, UT mengelola dana beasiswa lebih dari Rp44 miliar untuk 23.375 mahasiswa. Sebanyak 9.337 penerima berasal dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Skema beasiswa tersebut bersumber dari program KIP Kuliah, CSR mitra, pemerintah daerah, dan instansi tempat mahasiswa bekerja. Program KIP Kuliah dan CSR membiayai pendidikan hingga delapan semester, termasuk bantuan biaya hidup bagi mahasiswa kurang mampu.
Kurnia Endah Riana menambahkan bahwa kemudahan akses perkuliahan turut membangun kemampuan adaptasi dan pola pikir kritis mahasiswa.
"Ketika mendesain kurikulum, kami wajib melibatkan pemangku kepentingan atau stakeholder. Salah satunya adalah pengguna lulusan dan asosiasi profesi. Dengan demikian, kompetensi lulusan UT dapat tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja," kata Kurnia Endah Riana.
Pihak kampus menjalankan evaluasi berkala terhadap materi ajar, kurikulum, serta metode belajar. UT juga menggelar tracer study guna memetakan kompetensi lulusan di dunia kerja.
"UT secara konsisten memperbaiki kurikulum, terutama berkaitan dengan kompetensi yang harus dimiliki lulusan. Kami melakukan pemantauan, kemudian menyesuaikan bahan ajar, metode pembelajaran, hingga evaluasi hasil belajar," tutur Kurnia Endah Riana.
Upaya transformasi menjadi perguruan tinggi berbasis riset ditandai dengan pengukuhan 12 guru besar baru, sehingga total guru besar UT kini mencapai 45 orang.
"Guru besar dan setiap pendidik di UT diharapkan menghasilkan riset dan inovasi yang dapat menjadi bagian dari solusi atas persoalan bangsa. Sebagai perguruan tinggi negeri, kami juga diukur berdasarkan dampak yang dihasilkan. Karena itu, riset tidak hanya berakhir sebagai publikasi, tetapi idealnya dapat digunakan untuk memecahkan persoalan dan mendukung kemajuan bangsa," kata Kurnia Endah Riana.
Berikut daftar 12 guru besar yang baru dikukuhkan beserta bidang kepakarannya:
- Prof. Dr. Juhana, M.Pd. (English Language Instruction)
- Prof. Dr. Yumiati, M.Si. (Pembelajaran Aljabar)
- Prof. Dr. Siti Aisyah, M.Pd. (Model Pembelajaran Anak Usia Dini)
- Prof. Made Yudhi Setiani, S.IP., M.Si., Ph.D. (Pendidikan Jarak Jauh pada Pendidikan Politik)
- Prof. Dr. Milwan, S.Sos., M.Si. (Kebijakan Layanan Umum Pemerintahan dan Otonomi Daerah)
- Prof. Dr. Tita Rosita, M.Pd. (Perencanaan Pendidikan)
- Prof. Dr. Siti Aisyah, M.Si. (Smart Governance, Transformasi, dan Keberlanjutan Pembangunan)
- Prof. Dr. Ir. Edi Rusdiyanto, M.Si. (Lingkungan Perkotaan)
- Prof. Dr. Suparti, M.Pd. (Pembelajaran Literasi Bahasa)
- Prof. Dr. Mery Noviyanti, S.Si., M.Pd. (Komputasi dan Strategi Pembelajaran Matematika)
- Prof. Dr. Rahmat Hidayat, S.Sos., M.Si. (Digital Governance)
Kurnia Endah Riana menilai penguatan kualitas akademisi ini menjadi pilar penting dalam memperkuat kedaulatan bangsa di tengah ketergantungan ekonomi dan teknologi global.
"Kita masih memiliki ketergantungan di bidang ekonomi maupun teknologi kepada negara lain. Harapannya, melalui pendidikan dan penguatan sumber daya manusia, Indonesia semakin mampu berdiri di atas kaki sendiri," kata Kurnia Endah Riana.