Polisi Amankan 21 Orang Jelang Aksi Demo Mahasiswa di Jakarta

Share

Polda Metro Jaya mengamankan 21 orang yang diduga membawa barang berbahaya menjelang rangkaian aksi penyampaian pendapat dan demonstrasi di wilayah Jakarta pada Selasa (18/8/2026). Penangkapan tersebut dilakukan saat kepolisian bersiap mengawal 31 aksi unjuk rasa serta 16 kegiatan masyarakat di ibu kota.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengonfirmasi bahwa seluruh pihak yang diamankan masih berada di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan mendalam. Polisi menyita sejumlah benda berisiko seperti petasan, flare, serta botol yang disiapkan sebagai pemicu bom molotov.

"Adapun barang-barang tersebut berupa petasan ataupun flare, botol yang dipersiapkan sebagai pemicu ataupun pemantik sebagai bom molotov," kata Budi.

Pihak kepolisian masih mendalami keterkaitan ke-21 orang tersebut dengan rombongan massa aksi. Menurut Budi, pola umum menunjukkan pihak pembuat kerusuhan biasanya bukan bagian dari kelompok mahasiswa penyampai aspirasi.

"Tujuannya adalah membuat konflik antara petugas pengamanan dengan peserta yang menyampaikan pendapat di muka umum," ujar Budi.

Budi menambahkan bahwa penyiagaan personel gabungan bersama Kodam Jaya bertujuan menjaga kelancaran pusat aktivitas ekonomi publik seperti kawasan Bundaran HI, Monas, Semanggi, dan Sudirman. Kepolisian juga menjamin seluruh personel pengamanan tidak dibekali senjata api sesuai standar operasional prosedur.

"Jadi tidak boleh membawa senjata api di dalam pelaksanaan pelayanan penyampaian pendapat di muka umum," kata Budi.

Sementara itu, rangkaian unjuk rasa di Bundaran HI dipelopori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI). Kelompok mahasiswa tersebut bergerak dari FISIP UI Depok menuju pusat Jakarta untuk menyuarakan delapan tuntutan nasional.

Melalui unggahan di media sosial resminya, BEM UI menyerukan pengawalan terhadap hak-hak rakyat yang dinilai kian tergerus sehari usai peringatan HUT ke-81 RI.

"Halo, UI dan Indonesia! Kemerdekaan bukan sekadar perayaan. Ketika seorang rakyat masih dibungkam, hak-hak masih direnggut, dan ruang hidup semakin dipersempit maka kemerdekaan tidak cukup hanya dikenang. Kemerdekaan harus diperjuangkan kemerdekaan harus direbut kembali," tulis BEM UI lewat akun @bemui_official.

Ketua BEM UI Yatalathof Imawan mengonfirmasi jadwal keberangkatan rombongan mahasiswa menuju lokasi aksi di Jakarta Pusat.

"Jam 11 (berangkat) dari UI (Depok). Jam 1 di HI," ujarnya.

Yatalathof mengkritik situasi kedaulatan negara dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang dinilainya kian memprihatinkan.

"Hari ini, sehari setelah seremoni kenegaraan itu digelar, kami turun ke jalan bukan untuk merayakan, tapi untuk bertanya dengan lantang: kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan? kemerdekaan yang diperjuangkan pendiri bangsa 81 tahun lalu?" tutur dia.

Ia menekankan bahwa seruan aksi ini diusung atas krisis kedaulatan, mulai dari masalah korupsi, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga keterbatasan lapangan kerja.

"Ini bukan sekadar krisis ekonomi. Ini krisis kedaulatan," ucap dia.

Aksi demonstrasi tersebut turut memicu respons dari Parlemen. Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni mengingatkan mahasiswa untuk mewaspadai potensi penyusupan pihak provokator selama menyampaikan aspirasi.

"Ya kan kita enggak tahu, menghindari orang-orang yang ingin memprovokasi. Disalurkan oleh adik-adik dengan baik, tiba-tiba ada provokasi yang membuat jadi nanti…Menyampaikan aspirasinya jadi enggak baik. Kita hindari itu," kata Sahroni.

Sahroni berharap para mahasiswa tetap dapat menyampaikan kritik secara konstruktif melalui saluran yang tepat agar didengar oleh pemerintah.

"Ya mudah-mudahan demo yang cukup baik, menyalurkan aspirasi kepada pemerintah sudah baca itu ya beberapa tuntutan kepada pemerintah dilakukan secara baik-baik saja. Kita hindari hal-hal yang misalnya jangan ada hal-hal yang membuat jadi tidak baik," imbuh dia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author