Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan 11 Orang dan Melanggar Gencatan Senjata
Eskalasi kekerasan kembali mengguncang Jalur Gaza setelah militer Israel meluncurkan serangan udara terbaru. Dikutip dari Detikcom, aksi militer yang berlangsung pada Kamis waktu setempat tersebut mengakibatkan sedikitnya 11 warga tewas.
Juru bicara badan pertahanan sipil di Gaza, Mahmoud Bassal, memberikan rincian mengenai sebaran lokasi korban jiwa. Sebanyak 9 orang dilaporkan meninggal dunia setelah jet tempur Israel menyasar sejumlah apartemen di kawasan barat laut dan barat daya Gaza City.
Sementara itu, serangan pesawat tanpa awak atau drone juga terjadi di wilayah barat daya dan pusat kota. Operasi tersebut menyasar anggota kepolisian setempat dan merenggut 2 nyawa tambahan. Mahmoud Bassal menambahkan bahwa insiden ini turut menyebabkan 15 orang mengalami luka-luka.
Situasi di lapangan menunjukkan bahwa kekerasan harian terus terjadi meski kesepakatan gencatan senjata secara teknis telah berlaku sejak Oktober tahun lalu. Saat ini, lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza berada di bawah kendali militer Israel, sebuah kondisi yang dinilai melanggar ketentuan gencatan senjata.
Data dari kementerian kesehatan Gaza, yang beroperasi di bawah otoritas kelompok Hamas, menunjukkan skala korban yang terus meningkat. Pihak kementerian mencatat bahwa Israel telah menewaskan sedikitnya 936 orang sejak periode gencatan senjata tersebut resmi dimulai.
Hingga kini, penyelesaian konflik masih menemui jalan buntu karena pihak Hamas dan Israel saling melemparkan tuduhan terkait pelanggaran kesepakatan. Hambatan ini berdampak langsung pada kelanjutan proses diplomasi kedua belah pihak.
Stagnasi Fase Dialog Pembebasan Sandera
Implementasi perjanjian sebenarnya dirancang dalam beberapa tahapan. Fase pertama gencatan senjata telah melibatkan proses pembebasan sandera Israel terakhir yang ditahan oleh Hamas, yang ditukar dengan pelepasan warga Palestina di tahanan Israel.
Namun, transisi menuju fase kedua gencatan senjata mengalami kelumpuhan selama berbulan-bulan. Tahapan yang mandek ini seharusnya mencakup agenda pelucutan senjata kelompok Hamas serta penarikan pasukan militer Israel secara bertahap dari wilayah Gaza.
Kondisi di area konflik semakin dipertegas oleh kebijakan politik dari pucuk pimpinan Israel. Pekan lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa dirinya telah menginstruksikan pihak militer untuk mengambil alih 70 persen wilayah Jalur Gaza.
Tekanan militer Israel terhadap struktur kepemimpinan Hamas juga terus berjalan di wilayah tersebut. Kepala sayap bersenjata Hamas di Gaza yang terbaru, Mohammed Odeh, tewas dalam serangan Israel pekan lalu, sebulan setelah pendahulunya juga dinyatakan tewas.