Rupiah Melemah ke Rp18.074 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan sebesar 0,23 persen ke level Rp18.074 per dolar AS pada perdagangan Jumat (5/6/2026) pagi, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.
Kondisi ini melanjutkan tren penurunan dari hari sebelumnya dan membuat mata uang Indonesia tertahan di atas angka psikologis Rp18.000 per dolar AS. Lonjakan biaya impor serta tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi risiko nyata jika pelemahan ini bertahan lama.
Dampak penembusan level psikologis tersebut diperkirakan menyasar berbagai sektor fundamental ekonomi nasional. Kenaikan harga minyak global juga berpotensi menambah beban subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah.
“Pertama, biaya impor energi, pangan tertentu, obat, alat kesehatan, bahan baku industri, dan komponen manufaktur akan meningkat,” kata Josua Pardese, Chief Economist Bank Permata.
Peningkatan pengeluaran negara menjadi ancaman berikutnya yang harus diantisipasi pemerintah. Sektor korporasi yang mengandalkan pendanaan luar negeri atau bahan baku impor juga diprediksi mengalami tekanan laba yang signifikan.
“Kedua, Josua mengingatkan mengenai beban APBN yang berpotensi naik karena subsidi dan kompensasi energi menjadi lebih mahal, terutama ketika harga minyak masih tinggi.” kata Josua.
Sektor jasa keuangan turut menghadapi tantangan seiring dengan meningkatnya risiko gagal bayar dari debitur. Di sisi lain, daya beli masyarakat berisiko tergerus akibat penyesuaian harga barang di pasar.
“Keempat, Josua mewanti-wanti mengenai risiko terhadap bank dan lembaga pembiayaan dapat menjadi lebih berhati-hati karena risiko kredit meningkat.” kata Josua.
Potensi inflasi akibat penyesuaian harga hilir menjadi sorotan utama dalam jangka menengah. Penumpukan tekanan biaya diprediksi akan membebani instansi negara, dunia usaha, hingga konsumen akhir.
“Artinya, risiko terbesar bukan inflasi hari ini, melainkan tekanan biaya yang menumpuk dan akhirnya harus dibayar oleh APBN, korporasi, atau konsumen,” kata Josua.
Kepanikan pasar modal terpantau ikut terpicu setelah angka psikologis kurs tersebut terlampaui. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh level terendah dalam hampir enam tahun terakhir akibat aksi jual oleh investor asing.
“Ini artinya pelemahan rupiah tidak lagi bergerak pelan mengikuti fundamental, tetapi bisa dipercepat oleh kepanikan, posisi lindung nilai, dan perilaku ikut-ikutan pelaku pasar.” kata Josua.
Bank Indonesia (BI) didorong untuk segera mengambil langkah taktis guna mengendalikan ekspektasi pasar. Spekulasi penahanan valuta asing oleh eksportir dan aksi borong dolar AS oleh rumah tangga perlu dicegah agar tidak menciptakan kepanikan baru.
“Meski demikian, saya tetap melihat rupiah saat ini sudah berada di bawah nilai wajarnya. REER Mei 2026 diperkirakan rupiah undervalued lebih dari 5%, dengan nilai wajar USD/IDR berada di bawah level Rp17.000,” kata Josua.
Meskipun secara teknis dinilai terlalu murah, penguatan rupiah tidak diproyeksikan terjadi secara instan dalam waktu dekat. Pelaku pasar saat ini cenderung lebih memprioritaskan indikator likuiditas, kondisi fiskal, serta kepastian regulasi dari otoritas terkait.
“Kemenkeu perlu memberi kepastian bahwa defisit tetap terkendali, subsidi energi dikelola transparan, dan penerbitan SBN tidak dipaksakan saat pasar meminta bunga terlalu mahal,” kata Josua.
Langkah penanganan dinilai perlu dilakukan secara sinergis antara Kementerian Keuangan, Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bursa Efek Indonesia (BEI). BI sendiri telah menyatakan komitmennya untuk mengintensifkan intervensi melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.