Harga Minyak Dunia Melesat ke Level US$91 per Barel
Harga minyak mentah dunia melesat hingga menembus level US$91 per barel pada Selasa (18/8/2026) setelah harapan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran meredup. Eskalasi konflik di Timur Tengah ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global, terutama akibat melambatnya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent menguat 27 sen atau 0,3 persen menjadi US$91,14 per barel setelah sempat ditutup naik US$2,35 ke level US$90,87 pada perdagangan Senin (17/8/2026). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate AS menguat 42 sen menjadi US$85,04 per barel, menyusul kenaikan US$2,10 pada hari sebelumnya. Lonjakan ini dipicu oleh sikap tegas Washington yang menolak memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara.
Analis Pasar Utama KCM, Tim Waterer, menilai ketidakstabilan hubungan diplomatik kedua negara menjadi pendorong utama lonjakan harga minyak mentah. Dampak gangguan di dua rute maritim vital, yakni Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, menjadi perhatian mendasar bagi pasar energi dunia saat ini.
"Kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz masih belum terlihat, dan jumlah pelayaran masih sangat terbatas," kata Tim Waterer, Analis Pasar Utama KCM.
"Kedua titik tersebut bukan sekadar kekhawatiran sekunder. Keduanya berada di pusat narasi risiko pasokan saat ini," ujar Tim Waterer, Analis Pasar Utama KCM.
Data Kpler mencatat jalur perdagangan Selat Hormuz lumpuh secara signifikan. Hanya lima kapal komoditas yang melintas pada Sabtu (15/8/2026) dan tidak ada sama sekali pada Minggu (16/8/2026), memburu dibanding angka normal sebelum perang yang mencapai lebih dari 130 kapal per hari. Situasi ini diperparah oleh penyusutan stok Cadangan Minyak Strategis AS sebesar 5,3 juta barel menjadi 293,4 juta barel, level terendah sejak Desember 1982.
Guna mengantisipasi hambatan pasokan dari Timur Tengah, produsen utama seperti Saudi Aramco dan ADNOC mulai menawarkan skema penjualan alternatif di luar koridor Selat Hormuz untuk pemenuhan kilang minyak Asia. Di sisi lain, serangan kelompok Houthi terhadap kapal militer Arab Saudi di Laut Merah serta pelabuhan Mocha turut memperluas spektrum risiko keamanan kawasan.
Ketegangan politik kian memuncak seiring pernyataan keras dari para pemimpin kedua negara. Presiden AS Donald Trump menuntut Iran menyerah dan mengancam bertindak tegas jika Oman menghalangi langkah diplomatik AS, sembari meminta masyarakat AS menerima lonjakan harga BBM domestik yang rata-rata mencapai US$4,08 per galon.
"Membayar sedikit lebih mahal untuk bensin," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
"Apa yang kami lakukan adalah jasa besar bagi dunia, bukan hanya bagi diri kami sendiri… dan kami benar-benar melakukan pekerjaan yang hebat," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
"Setelah kami selesai mengalahkan Iran… tak lama lagi saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
"Iran seharusnya mengibarkan bendera putih tanda menyerah," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
"Jika Oman menghalangi, kita akan membombardir mereka habis-habisan," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pemerintah Iran menolak klaim AS dan menegaskan kontrol penuh atas wilayah perairan strategis tersebut. Pihak Teheran menyatakan tidak akan mundur dari ancaman militer maupun sanksi ekonomi yang dijatuhkan Washington.
"Selat ini hanya akan dibuka dan ditutup atas perintah Iran. Selama Anda tidak menerima kenyataan bahwa Anda telah kalah dan terus hidup dalam khayalan, Iran akan terus memberlakukan blokade," kata Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran.
"Selat Hormuz tidak dapat dikuasai hanya dengan sebuah unggahan di X, menugaskankapal induk, ataupun menyampaikan pidato kampanye," ujar Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran.
Di tengah kegagalan negosiasi damai, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengonfirmasi bahwa blokade muara pelabuhan oleh AS mulai memicu tekanan inflasi di dalam negeri. Sementara itu, Kementerian Keuangan AS mengindikasikan bakal meluncurkan sanksi finansial tambahan untuk menekan pendapatan ekspor energi Iran pada pekan depan.