Rupiah Melemah ke Rp17.643 per Dolar AS pada Perdagangan Kamis

Share

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami pelemahan sebesar 0,22% ke posisi Rp17.643/US$ dalam pembukaan perdagangan pada Kamis (21/5/2026) pagi akibat tekanan eksternal inflasi global, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.

Mata uang Indonesia tersebut awalnya melemah 0,2% ke level Rp17.640/US$ saat pembukaan pasar sebelum melorot lebih dalam bersama won Korea Selatan dan dolar Singapura, sementara mata uang Asia lainnya justru menguat.

Pelemahan ini tetap terjadi meski Bank Indonesia telah melakukan pengetatan moneter secara agresif dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin hingga mencapai level 5,25% demi menjaga stabilitas pasar.

Tekanan terhadap kurs rupiah dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terkait lonjakan inflasi yang bersumber dari kenaikan harga minyak mentah dunia sehingga mengerek imbal hasil obligasi global dan memicu arus modal keluar dari Asia.

"Dalam jangka pendek, mata uang Asia kemungkinan masih akan diperdagangkan dalam posisi yang lebih lemah," kata Chrispother Wong, strategist di Oversea-Chinese Banking Corp.

Kondisi pasar diperkirakan bisa mencapai stabilitas jika kenaikan imbal hasil US Treasury serta harga minyak mulai berhenti, namun pemulihan yang berkelanjutan tetap memerlukan penurunan yield tenor panjang AS dan meredanya ketegangan geopolitik.

Faktor internal juga turut menekan rupiah setelah Presiden Prabowo Subianto menyoroti rendahnya rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia yang hanya berkisar antara 11% sampai 12%.

Angka rasio pendapatan Indonesia tersebut tercatat paling rendah dibandingkan dengan negara tetangga seperti Filipina sebesar 21%, India 20%, Kamboja 15%, dan Meksiko yang mencapai 25% dari PDB.

Rendahnya rasio penerimaan negara ini ditangkap oleh pelaku pasar sebagai indikasi rapuhnya kondisi fiskal domestik yang membatasi ruang pemerintah dalam menghadapi gejolak ekonomi global serta membiayai belanja subsidi energi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author