Saham BYAN dan Emiten Haji Isam Melesat Ditengah Rumor Akuisisi
Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) beserta sejumlah emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam melonjak signifikan pada perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026. Pergerakan tajam ini dipicu beredarnya rumor akuisisi 62,2 persen saham BYAN oleh pemilik Jhonlin Group tersebut dengan nilai transaksi diperkirakan mencapai 5,5 miliar dolar AS.
Perdagangan saham BYAN pada Selasa (18/8/2026) melesat 2.875 poin atau 20 persen hingga menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) di level Rp17.275 per saham. Transaksi tersebut melibatkan 5,22 juta saham dengan nilai mencapai Rp88,49 miliar melalui 6.041 kali frekuensi perdagangan, melanjutkan penguatan dari perdagangan Jumat (14/8/2026) ketika saham BYAN ditutup naik 19,01 persen ke level Rp14.400 per saham.
Lonjakan harga juga melanda jajaran saham milik Grup Jhonlin pada Selasa (18/8/2026). Saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) melesat 24,88 persen ke Rp2.510, PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) naik 24,73 persen ke Rp1.715, PT Pratama Guna Nusa Tbk (PGUN) melonjak 19,93 persen ke Rp9.175, dan PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) menguat 9,46 persen ke Rp324. Sementara itu, saham PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) menguat hingga 17,15 persen ke level Rp560 per saham.
Rumor pengambilalihan mencuat setelah beredar foto kunjungan kerja Haji Isam bersama pemegang saham pengendali BYAN, Dato Low Tuck Kwong, serta pemilik Republik Korpora Indonesia Norman Joesoef di area tambang BYAN di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Sabtu (15/8/2026). Porsi saham 62,2 persen yang dirumorkan setara dengan akumulasi kepemilikan Low Tuck Kwong sebesar 40,25 persen dan Elaine Low sebesar 22 persen per 18 Agustus 2026.
Sumber IDNFinancials yang dekat dengan pihak BYAN mengonfirmasi kabar transaksi yang beredar di pasar modal tersebut.
"Saya dengar memang begitu, saham BYAN akan dijual ke Haji Isam, rumor yang saya dengar deal di sekitar US$5,5 miliar," ujar sumber IDNFinancials yang dekat dengan BYAN.
Meskipun demikian, salah satu pihak di lingkungan Jhonlin Group enggan memberikan tanggapan resmi mengenai isu akuisisi tersebut. Pihak BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa spekulasi aksi korporasi ini semakin kuat menyusul rencana pelaksanaan RUPSLB oleh JARR pada 21 September 2026, walaupun struktur transaksi dan kepastian pengambilalihan saham BYAN belum diumumkan secara resmi melalui Bursa Efek Indonesia.
Kinerja keuangan BYAN menunjukkan tren positif dengan membukukan laba bersih sebesar 410,25 juta dolar AS atau sekitar Rp7,41 triliun pada semester I 2026, meningkat 17,46 persen secara tahunan. Pendapatan perseroan juga tumbuh 7,29 persen menjadi 1,74 miliar dolar AS atau Rp31,45 triliun. Sebaliknya, laporan keuangan semester I 2026 emiten Grup Jhonlin seperti TEBE, PGUN, dan JARR masih mencatatkan penurunan laba bersih secara tahunan.