Rupiah Melemah Tergerus ke Rp17.902 per Dolar AS pada 1 Juni 2026
Nilai kontrak rupiah dilaporkan melemah 0,08% ke posisi Rp17.883/US$ pada perdagangan Non-Deliverable Forward (NDF), kemudian kembali tergerus 0,18% ke level Rp17.902/US$ pada pukul 07.49 WIB. Kontrak mata uang garuda meleos nyaris menyentuh kisaran Rp17.900-an/US$ saat pasar spot domestik libur memperingati Hari Kelahiran Pancasila, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada 1 Juni 2026.
Tekanan eksternal meningkat seiring indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama yang menguat ke posisi 99,03, sementara harga minyak Brent terkerek naik 1,42% menuju level US$93,36 per barel. Tekanan serupa melanda pasar valuta asing Asia yang tidak libur, di mana won Korea Selatan melemah 0,42%, yen Jepang turun 0,11%, dan dolar Singapura terpeleset 0,06%.
Laju gerak rupiah sepanjang pekan ini akan sangat dipengaruhi oleh perilisan sejumlah data ekonomi domestik, mulai dari inflasi, laporan perdagangan, hingga neraca pembayaran. Laju inflasi Indonesia pada Mei diperkirakan merangkak naik menjadi 3,1% dibandingkan capaian April yang berada di angka 2,42% akibat kuatnya permintaan domestik serta lonjakan biaya energi.
Analis Bloomberg Economics memperingatkan bahwa inflasi nasional berisiko menembus batas atas target Bank Indonesia sebesar 3,5% mulai Juni apabila guncangan harga minyak dunia terus berlanjut. Depresiasi rupiah terhadap dolar AS turut mendongkrak biaya impor, meskipun skema subsidi dari pemerintah membantu meredam sebagian dampaknya bagi masyarakat.
Selain inflasi, Indonesia juga dijadwalkan mengumumkan data ekspor-impor serta neraca perdagangan terbaru. Konsensus yang dihimpun oleh Bloomberg memproyeksikan pertumbuhan ekspor Indonesia berada di angka 9,10%, sedangkan impor diperkirakan tumbuh sebesar 2,9%.
Perbandingan Bantalan Eksternal Indonesia dan Korea Selatan
Kondisi ekonomi Indonesia berbeda dengan Korea Selatan yang memiliki bantalan eksternal kuat berkat lonjakan permintaan global untuk produk semikonduktor serta teknologi tinggi. Pengiriman chip dari Korea Selatan melonjak lebih dari 200% dalam 20 hari pertama Mei, sehingga ekspornya diperkirakan melonjak 55,5% secara tahunan dan surplus perdagangannya melebar menjadi US$26,4 miliar.
Sebaliknya, Indonesia masih bergantung pada ekspor komoditas yang rentan terhadap fluktuasi harga global. Kenaikan harga minyak dunia memang menguntungkan beberapa komoditas energi, namun status Indonesia sebagai importir minyak memicu dampak negatif dari sisi inflasi dan defisit transaksi berjalan.
Pasar kini mencermati apakah surplus perdagangan masih cukup tangguh menopang rupiah di tengah tingginya kebutuhan devisa untuk impor energi. Jika ketahanan data ekonomi memadai, tekanan rupiah berpeluang mereda; namun jika bantalan tersebut menipis, rupiah berpotensi melemah hingga mendekati atau menembus level psikologis baru Rp18.000/US$.
Sebagai catatan, Bank Indonesia mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,15 miliar, membengkak dari kuartal sebelumnya yang defisit US$6,07 miliar. Transaksi berjalan juga mencatat defisit US$4 miliar atau 1,1% terhadap Produk Domestik Buruto, memburuk dari kuartal sebelumnya yang masih surplus US$2,5 miilar.